Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    Mengajak bayi berbicara memang menjadi salah satu cara membantu kemampuan anak bicara. Tetapi, ternyata sebenarnya bayi lebih tertarik untuk bicara dengan bayi lain ketimbang dengan orang dewasa.

    Sebuah studi terbaru menemukan bahwa bayi berusia 6 bulan secara nyata lebih suka mendengarkan ocehan bayi lain. Para ahli meyakini hal ini merupakan proses krusial dalam proses pembelajaran bayi untuk bicara.

    Dalam studi tersebut, bayi-bayi diperdengarkan suara vocal yang mirip. Suara tersebut ada dua, yang pertama dibuat oleh wanita dewasa dan dibuat oleh bayi lain.

    Kemudian para ahli mengukur seberapa lama bayi-bayi itu menaruh perhatian pada kedua suara. Ternyata, bayi lebih suka mendengar suara teman-temannya. Saat mendengar ocehan bayi lain, durasinya hampir setengah lebih lama dibanding saat mendengar suara wanita dewasa.

    Para ahli menjelaskan bahwa ketertarikan bayi-bayi itu bukan karena suara tersebut lebih sering didengar. Para bayi ini belum bisa mengoceh (babbling), sehingga suara bayi lain yang mereka dengar belum jadi bagian dari suara yang sering mereka dengar.

    Sebagian bayi saat mendengarkan suara orang dewasa menunjukkan ekspresi netral dan wajah yang pasif. Sebaliknya, saat mendengar suara bayi lain mereka tersenyum dan menggerakkan mulut mereka.

    Para bayi itu seperti mengerti dan mengenali bahwa mereka bisa mencoba suara itu sendiri.

    "Sebagai orang dewasa, kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, tapi ketika bayi mulai belajar membuat suara, mereka perlu mengeksplorasinya ketimbang untuk berkomunikasi," kata Linda Polka, ketua peneliti.

    Ia menambahkan, bayi mencoba suara-suara ketika mereka sendirian tanpa ada interaksi atau kontak mata dengan orang lain.

    "Ini karena saat belajar bagaimana bicara, bayi perlu lebih banyak waktu menggerakkan mulut mereka dan nada suara untuk memahami berbagai jenis suara yang bisa mereka buat. Mereka butuh menemukan suara mereka sendiri," katanya.
    Nenek Moyang orang Kerinci selalu membuat pemukiman pada daerah-daerah yang subur, yang sering disebut ; Talang, Dusun, Koto. Perkembangan pemukiman ini diperkirakan terjadi pada Zaman SIGINDO.Pada masa Sugindo perkembangan kehidupan masyarakat sudah jauh lebih maju, mereka sudah mulai hidup menetap. Mengacu pada tempat penemuan benda-benda peninggalan sejarah, maka diketahui pemukiman-pemukiman yang pernah dibuat nenek moyang pada zaman dulu diantaranya terletak di: 
    1. Disekitar Gunung Masurai, Danau Depati Empat (Danau Besar), Danau Pauh. Diperkirakan daerah-daerah ini merupakan Lokasi Dusun Purba; Renah Punti, Talang Menggala, Muara Penon, Durian Tinggi dan Sungai Kuyung. Kelima Dusun itu diperkirakan berada disekitar daerah Serampas dan Sungai Tenang Kecamatan Jangkat. dan disekitar daerah itu diperkirakan juga terdapat Dusun Purba Koto Mutun, Renah Lipai Tuo, Pelegai Panjang, yang berada dalam Kecamatan Muara Siau. 
    2. Disebelah Selatan Danau Kerinci sekitar Dusun Muak sekarang, terdapat dusun purba Jerangkang Tinggi. 
    3. Disebelah tepi Barat Danau Kerinci sekitar Dusun Jujun dan Benik sekarang. 
    4. Di dataran Tinggi diatas kota Sungai Penuh, diantara Bukit Mejid dan Bukit Koto Tinggi, disekitar daerah Koto Pandan sekarang. 
    5. Disekitar perbukitan diatas Dusun Kumun sekarang 
    6. Disekitar perbukitan diatas Sungai Liuk, diperkirakan tempat dusun purba KotoBingin 
    7. Disekitar perbukitan diatas Simpang Belui dan Semurup, diperkirakan tempat dusun purba Koto Limau Sering. 
    8. Disekitar Hiang diperkirakan terdapat dusun purba Koto Jelatang. 
    Banyak dusun yang terbentuk secara bertahap dalam selang waktu yang cukup lama, sebagai contoh :
    1. Dari Dusun Purba JERANGKANG TINGGI berkembang Dusun Pulau Sangkar, Sanggaran Agung, Jujun, Pulau Tengah dan Pengasi. 
    2. Dari Dusun Pulau sangkar kemudian pindah ke utara berkembang Dusun Lekuk 33 Tumbi yang kemudian menjadi Dusun Terutung, sebagian berpindah ke arah barat melahirkan dusun Lekuk 50 Tumbi atau Dusun Lempur sekarang. Dari dusun Pulau sangkar berkembang Dusun Pondok, Muak, Lolo, Lubuk Paku, Keluru, Semerap. 
    3. Dari Dusun Sanggaran Agung berkembang menjadi Dusun Tanjung Pauh Mudik, Pondok Siguang, Tanjung Pauh Hilir, Talang Kemulun. 
    4. Dari Dusun Pengasi berkembang menjadi Dusun Pulau Pandan, Pendung Talang Genting, Tebing Tinggi, Seleman, Tanjung Batu, Pidung. Untuk Seleman sebagian penduduknya berasal dari Dusun Purba Koto Jelatang. 
    5. Dari Dusun Pulau Tengah berkembang menjadi Dusun Koto Tuo dan Koto Dian. 
    6. Dari Dusun Jujun berkembang menjadi Dusun Benik. 
    7. Dari Dusun Siulak Mukai di Tanah Sekudung, berkembang menjadi Dusun Mukai Mudik, Mukai Tengah, Mukai Ilir,Siulak Gedang, Siulak Panjang, Lubuk Nagodang, Siulak Kecik, Siulak Tenang, Tanjung Genting, Koto Kapeh, Sungai Pegeh, Dusun Baru, Sungai Labu.
    Kata " Kerinci " diperkirakan baru dikenal orang sekitar awal Tahun Masehi. Kepastian tentang asal usul nama "Kerinci" memang sulit untuk dijawab dan sampai sekarang masih di perdebatkan banyak kalangan. Karena ada berbagai macam versi pendapat tentang itu, dengan argumentasi yang bermacam-macam pula. Tapi kita tidak usah larut dengan polemik itu. Sebutan kata Kerinci dalam masyarakat Kerinci sendiri diucapkan dengan dialek yang berbeda, yang merupakan pengaruh dialek masing-masing bahasa tiap-tiap dusun, suku atau kalbu/ komunitas masyarakat yang berbeda. Memang di daerah Sakti Alam Kerinci kaya akan dialek bahasa. Lain Dusun/Desa/ Koto, lain pula dialek bahasanya. Pada prinsipnya bahasanya hampir sama, hanya dialek saja yang sedikit berbeda. namun ada juga kosa kata tertentu yang memang penyebutan dan dialeknya berbeda jauh. Orang Sungai Penuh, Pondok Tinggi, Dusun Baru, Hamparan Rawang, Koto Lanang, Tanjung Pauh dan sekitarnya menyebut kata Kerinci dengan sebutan : KINCAI Orang Semurup, Siulak dan sekitarnya menggunakan kata : KINCI Orang Kerinci Hilir (P.sangkar, Lempur, Tamiai) menggunakan kata : KRINCI Orang MinangKabau ada yang menggunakan kata : KURINCI Berikut beberapa versi pendapat tentang asal usul nama " Kerinci " yang dikenal dengan julukan : SEKEPAL TANAH YANG TERCAMPAK DARI SURGA atau sering juga orang menyebut TANAH SERAMBI MADINAH * Sebuah legenda mengatakan bahwa nama Kerinci berasal dari kata " KUNCI ", yang mengkiaskan daerah ini berada dalam kondisi geografis yang terkunci, dimana dikelilingi oleh bukit barisan yang berlapis- lapis dengan medan yang sulit untuk menembus daerah ini pada zaman dahulu, seolah daerah ini tertutup untuk akses keluar (terkunci). * Sebagian orang ada yang berpendapat asal nama Kerinci dari keadaan geografis Kerinci yaitu yang " Kering-kering Cair". dimana pada musim penghujan sebagian daerah kerinci terendam banjir akibat meluapnya air sungai dan danau kerinci, sebaliknya pada musim kemarau iklim menjadi kering. * Sebagian berpendapat, kata Kerinci berasal dari bahasa India kuno (Tamil) yang berarti perbukitan atau pegunungan. Orang Tamil dari India Selatan pada masa Kerajaan Mahenjodaro dan Harappa (lebih kurang 3000 thn SM) mengenal baik daerah Kerinci sebagai penghasil Kemenyan, Cempaka, Kayu Sigi (Pinus), dsb
    Dari bukti2 sejarah dapat diketahui bahwa orang Kerinci berasal dari Ras Melayu,spesifiknya PROTO MELAYU (MELAYU TUA)yang bermigrasi ke Pulau Sumatera dan Nusantara sebelum gelombang migrasi DEUTRO MELAYU (MELAYU MUDA), Ada beberapa teori migrasi Ras Melayu yang di paparkan oleh para ahli antropologi dan arkeologi dan ahli sejarah yang sampai saat ini masih diperdebatkan. Menurut para pakar, pada waktu kedatangan Proto Malaiers (Melayu Tua) ke Alam Kerinci, di daerah ini sendiri telah didiami oleh manusia. Para ahli memberi istilah " Manusia Kecik Wok Gedang Wok". dari mana asal usul manusia Kecik Wok Gedang Wok, belum ada para pakar yang bisa memastikannya. Istilah Kecik Wok Gedang Wok dipakai karena masyarakat itu belum mempunyai nama panggilan, sapaan diantara sesamanya hanya dengan menggunakan sebutan "Wok". kehidupan masih primitif, mereka penghuni goa-goa dan tebing2 batu. Kapan datangnya Kecik Wok Gedang Wok ke wilayah Alam Kerinci ?... dan darimana asalnya masih di perdebatkan para ahli, namun yang jelas mereka merupakan penduduk pertama disini. Dalam perjalanan sejarah, Kecik Wok Gedang Wok telah mengalami percampuran dengan penduduk2 yang datang kemudiannya, termasuk percampuran dengan Ras Melayu Tua dan Ras Melayu Muda, sehingga saaat ini tidak ditemukan lagi orang Kecik Wok Gedang Wok yang berdarah murni (asli). Manusia Kecik Wok Gedang Wok diperkirakan telah menghuni Kerinci semenjak 10.000 Tahun yang silam. Perjalanan kehidupan nenek moyang orang Kerinci berkembang dengan cepat, diantaranya menyebar mencari daerah2 baru kesebelah selatan Kerinci Tinggi, yaitu daerah Serampas, Sungai Tenang, Muara Siau dan Jangkat. Sebagian lainnya migrasi ke Kerinci Rendah; daerah sekarang yang disebut Sungai Manau (Tanah Renah), Lubuk Gaung dan Nalo Tantan. Penyebaran Orang Kerinci bahkan samapai ke daerah Koto Baru (wil.Sumatera Barat paling Selatan). Demikian pula halnya komunitas orang Kerinci yang ada di Serampas, Sungai Tenang, Muara Siau dan Jangkat, sebagian ada yang berpindah dan menetap di daerah sepanjang aliran Sungai Batang Limun, Batang Asai dan daerah Sarolangun. Di daerah Muara Bungo dan Sarolangun mereka membentuk persekutuan masyarakat adat sendiri. Walaupun mereka tidak berada dalam wilayah Alam Kerinci secara geografris, namun hubungan dengan daerah asalnya tetap terjalin baik. Komunitas ini menamakan dirinya dengan " ORANG BATIN". Kebudayaan dan adat istiadat orang batin banyak persamaan dengan orang Kerinci Tinggi, termasuk dalam hal ciri-ciri fisik. Kesamaan itu karena mereka berasal dari keturunan Nenek Moyang yang sama. Orang Batin sendiri pada Musyawarah Adat Kabupaten Sarko Tahun 1969 mengatakan tentang asal usulnya, dalam Seluko Adat (pepatah adat) : " Pucuk adalah induk segalo Batin ". Pucuk artinya daerah diatas, yaitu daerah yang lebih tinggi yaitu Kerinci Tinggi.