Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    » »Unlabelled » askep tetanus


    PEBI JULIANTO 02.47 0

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan sebuah Tugas yang berjudul TETANUS
    .
    Dalam menyelesaikan resume ini , tentunya tak lepas dari bantuan dari beberapa pihak. untuk ini , penulis mengucapkan terima kasih kepada:

    - Bapak Maiza Efaldi, S.Kom. selaku guru pembimbing.
    - Orang tua yang telah memberikan motivasi kepada saya.
    - Serta Semua pihak yang ikut terlibat dalam membantu penyelesaian Resume ini.

    Dalam penulisan resume ini tentu masih banyak sekali terdapat ke kurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penyempurnaan resume ini.
    Semoga apa yang diinginkan penulis dalam penulisan resume ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.


    Kayu Aro, 7 Juli 2009


    Penulis


    DAFTAR ISI

    Hal
    KATA PENGANTAR i
    DAFTAR ISI ii
    BAB I PENDAHULUAN 1
    1.1 Latar Belakang 1
    1.2 Tujuan 1
    BAB II TETANUS 2
    2.1 Pengertian 2
    2.2 Epidemiologi 2
    2.3 Etiologi 2
    2.4 Patofisiologi 3
    2.5 Pengkajian Keperawatan 3
    2.6 Diagnosa Keperawatan 6
    BAB III PENUTUP 8
    3.1 Kesimpulan 8
    3.2 Saran 8
    Daftar Pustaka

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran.
    Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.
    Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah.
    Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
    Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui :
    1. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
    2. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
    3. OMP, caries gigi
    4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
    5. Penjahitan luka robek yang tidak steril.

    1.2 Tujuan
    Dengan adanya resume ini, maka saya selaku panyusun mebuat resume ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan ujian semester dari dosen pembimbing mata kuliah computer, yaitu pak Maiza Efaldi, S.Kom.


    BAB II
    TETANUS

    2.1 Pengertian
    Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran.
    Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.

    2.2 Epidemiologi
    Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah.
    Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
    Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui :
    6. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
    7. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
    8. OMP, caries gigi
    9. Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
    10. Penjahitan luka robek yang tidak steril.

    2.3Etiologi

    Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 – 0,5 milimikron yang berspora termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 65 0 C akan hancur dalam
    lima menit. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang bersifat hemolisis, yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit.

    2.4 Patofisiologi

    Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku, pecahan kaca, atau kaleng, luka tembak, luka bakar, luka yang kototr dan pada bayi dapat melalui tali pusat. Organisme multipel membentuk 2 toksin yaitu tetanuspasmin yang merupakan toksin kuat dan atau neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot, dan mempngaruhi sistem saraf pusat. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh aritititoksin. Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke korno anterior susunan saraf pusat. Kedua, toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat. Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot menjadi kejang dan mudah sekali terangsang. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari .

    2.5 Pengkajian Keperawatan
    1. Riwayat kehamilan prenatal. Ditanyakan apakah ibu sudah diimunisasi TT.
    2. Riwayat natal ditanyakan. Siapa penolong persalinan karena data ini akan membantu membedakan persalinan yang bersih/higienis atau tidak. Alat pemotong tali pusat, tempat persalinan.
    3. Riwayat postnatal. Ditanyakan cara perawatan tali pusat, mulai kapan bayi tidak dapat menetek (incubation period). Berapa lama selang waktu antara gejala tidak dapat menetek dengan gejala kejang yang pertama (period of onset).
    4. Riwayat imunisasi pada tetanus anak. Ditanyakan apakah sudah pernah imunisasi DPT/DT atau TT dan kapan terakhir
    5. Riwayat psiko sosial.
    5.1. Kebiasaan anak bermain di mana
    5.2. Hygiene sanitasi
    6. Pemeriksaan fisik.
    6.1. Pada awal bayi baru lahir biasanya belum ditemukan gejala dari tetanus, bayi normal dan bisa menetek dalam 3 hari pertama. Hari berikutnya bayi sukar menetek, mulut “mecucu” seperti mulut ikan. Risus sardonikus dan kekakuan otot ekstrimitas. Tanda-tanda infeksi tali pusat kotor. Hipoksia dan sianosis.
    6.2. Pada anak keluhan dimulai dengan kaku otot lokal disusul dengan kesukaran untuk membuka mulut (trismus).
    6.3. Pada wajah : Risus Sardonikus ekspresi muka yang khas akibat kekakuan otot-otot mimik, dahi mengkerut, alis terangkat, mata agak menyipit, sudut mulut keluar dan ke bawah.
    6.4. Opisthotonus tubuh yang kaku akibat kekakuan otot leher, otot punggung, otot pinggang, semua trunk muscle.
    6.5. Pada perut : otot dinding perut seperti papan. Kejang umum, mula-mula terjadi setelah dirangsang lambat laun anak jatuh dalam status konvulsius.
    6.6. Pada daerah ekstrimitas apakah ada luka tusuk, luka dengan nanah, atau gigitan binatang.

    7. Pengetahuan anak dan keluarga.
    7.1. Pemahaman tentang diagnosis
    7.2. Pengetahuan/penerimaan terhadap prognosa
    7.3. Rencana perawatan ke depan.

    Tata laksana pasien tetanus

    Umum
    1. Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi. Pemberian cairan secara i.v., sekalian untuk memberikan obat-obatan secara syringe pump (valium pump).
    2. Menjaga saluran nafas tetap bebas, pada kasus yang berat perlu tracheostomy.
    3. Memeriksa tambahan oksigen secara nasal atau sungkup.
    4. Kejang harus segera dihentikan dengan pemberian valium/diazepam bolus i.v. 5 mg untuk neonatus, bolus i.v. atau perectal 10 mg untuk anak-anak (maksimum 0.7 mg/kg BB).

    Khusus
    1. Antibiotika PP 50.000-100.000 IU/kg BB.
    2. Sera anti. Dapat diberikan ATS 5000 IU i.m. atau TIGH (Tetanus Immune Globulin Human) 500-3.000 IU. Pemberian sera anti harus disertai dengan imunisasi aktif dengan toksoid (DPT/DT/TT)
    3. Perawatan luka sangat penting dan harus secara steril dan perawatan terbuka (debridement).
    4. Konsultasi dengan dokter gigi atau dokter bedah atau dokter THT

    Pencegahan
    1. Perawatan luka harus dicegah timbulnya jaringan anaerob pada pasien termasuk adanya jaringan mati dan nanah.
    2. Pemberian ATS profilaksis.
    3. Imunisasi aktif.
    4. Khusus untuk mencegah tetanus neonatorum perlu diperhatikan kebersihan pada waktu persalinan terutama alas tempat tidur, alat pemotong tali pusat, dan cara perawatan tali pusat.
    5. Pendidikan atau penjelasan kepada orang tua mengenai kebersihan individu dan lingkungan serta cara pemeriksaan dan perawatan di RS dan perlunya pemeriksaan lanjutan.

    2.6 Diagnosa Keperawatan
    Setelah pengumpulan data, menganalisa data, dan menentukan diagnosa keperawatan yang tepat sesuai dengan data yang ditemukan, kemudian direncanakan membuat prioritas diagnosa keperawatan, membuat kriteria hasil, dan intervensi keperawatan.
    1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. peningkatan kebutuhan kalori yang tinggi, makan tidak adekuat.
    2. Gangguan perfusi jaringan b.d. penurunan sirkulasi (hipoksia berat).
    3. Ketidakefektifan jalan nafas b.d. terkumpulnya liur di dalam rongga mulut (adanya spasme pada otot faring).
    4. Koping keluarga tidak efektif b.d. kurang pengetahuan keluarga tentang diagnosis/prognosis penyakit anak
    5. Gangguan komunikasi verbal b.d. sukar untuk membuka mulut (kekakuan otot-otot masseter)
    6. Risti gangguan pertukaran gas b.d. penurunan oksigen di otak.
    7. Risti injuri b.d. kejang spontan yang terus-menerus (kurang suplai oksigen karena adanya oedem laring).

    1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. Peningkatan kebutuhan kalori yang tinggi, makan tidak adekuat.
    Tujuan : nutrisi dan cairan dapat dipertahankan sesuai dengan berat badan dan pertumbuhan normal.
    Kriteria hasil :
     Tidak terjadi dehidrasi
     Tidak terjadi penurunan BB
     Hasil lab. tidak menunjukkan penurunan albumin dan Hb
     Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi
    Intervensi :
    1. Catat intake dan output secara akurat.
    2. Berikan makan minum personde tepat waktu.
    3. Berikan perawatan kebersihan mulut.
    4. Gunakan aliran oksigen untuk menurunkan distress nafas.
    5. Berikan formula yang mengandung kalori tinggi dan protein tinggi dan
    sesuaikan dengan kebutuhan.
    6. Ajarkan dan awasi penggunaan makanan sehari-hari.
    7. Tegakkan diet yang ditentukan dalam bekerja sama dengan ahli gizi.

    2. Ketidakefektifan jalan nafas b.d. terkumpulnya liur di dalam rongga mulut (adanya spasme pada otot faring)
    Tujuan : kelancaran lalu lintas udara (pernafasan) terpenuhi secara maksimal.
    Kriteria hasil :
     Tidak terjadi aspirasi
     Bunyi napas terdengar bersih
     Rongga mulut bebas dari sumbatan
    Intervensi :
    1. Berikan O2 nebulizer
    2. Ajarkan pasien tehnik batuk yang benar.
    3. Ajarkan pasien atau orang terdekat untuk mengatur frekuensi batuk.
    4. Ajarkan pada orang terdekat untuk menjaga kebersihan mulut.
    5. Berikan perawatan kebersihan mulut.
    6. Lakukan penghisapan bila pasien tidak dapat batuk secara efektif dengan melihat waktu.










    BAB III
    PENUTUP
    3.1 Kesimpulan
    Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran.
    Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.
    Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah.
    Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana.
    Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui :
    11. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
    12. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
    13. OMP, caries gigi
    14. Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
    15. Penjahitan luka robek yang tidak steril.
    3.2 Saran
    Saya selaku penulis, menyadari bahwa resume ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan resume yang akan dibuat dimasa mendatang.



    Daftar Pustaka
    Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
    Carolyn M. Hudak, Barbara M. Gallo (1996), Keperawatan Kritis; Pedekatan Holistik Volume II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
    Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

    «
    Next
    Posting Lebih Baru
    »
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar

    Leave a Reply