Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    » »Unlabelled » askep katarak


    PEBI JULIANTO 06.09 0

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan sebuah Tugas yang berjudul KATARAK

    Dalam menyelesaikan resume ini , tentunya tak lepas dari bantuan dari beberapa pihak. untuk ini , penulis mengucapkan terima kasih kepada:

    - Bapak Maiza Efaldi, S.Kom. selaku guru pembimbing.
    - Orang tua yang telah memberikan motivasi kepada saya.
    - Serta Semua pihak yang ikut terlibat dalam membantu penyelesaian Resume ini.

    Dalam penulisan resume ini tentu masih banyak sekali terdapat ke kurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penyempurnaan resume ini.
    Semoga apa yang diinginkan penulis dalam penulisan resume ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.


    Siulak Gedang, 7 Juli 2009


    Penulis


    DAFTAR ISI

    Hal
    KATA PENGANTAR i
    DAFTAR ISI ii
    BAB I PENDAHULUAN 1
    1.1 Latar Belakang 1
    1.2 Tujuan 1
    BAB II KATARAK 2
    2.1 Definisi 2
    2.2 Klasifikasi 2
    2.3 Etiologi 2
    2.4 Patofisiologi 3
    2.5 Manifestasi Klinik 4
    2.6 Pemeriksaan Diagnostik 4
    2.7 Komplikasi 4
    2.8 Pencegahan 5
    2.9 Diagnosa keperawatan 5
    2.10 Perencanaan Keperawatan 5
    BAB III PENUTUP 10
    3.1 Kesimpulan 10
    3.2 Saran 10
    Daftar Pustaka















    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    Katarak adalah istilah kedokteran untuk setiap keadaan kekeruh an yang terjadi pada lensa mata yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi.
    Lensa mata mengandung tiga komponen anatomis an: nukleus korteks & kapsul.nukleus mengalami perubahan warna coklat kekuningan seiring dengan bertambahnya usia.disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri dianterior & posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna.perubahan fisik & kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai infulks air kedalam lensa proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang & mengganggu transmisi sinar.teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peranan dalam melindungi lensa dari degenerasi.jumlah enzim akan menurun dg bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien menderita katarak.

    1.2 Tujuan
    Dengan adanya resume ini, maka saya selaku panyusun mebuat resume ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan ujian semester dari dosen pembimbing mata kuliah computer, yaitu pak Maiza Efaldi, S.Kom.

    BAB II
    KATARAK

    2.1 Definisi
    Katarak adalah istilah kedokteran untuk setiap keadaan kekeruh an yang terjadi pada lensa mata yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi.
    2.2 Klasifikasi
    Katarak dapat diklasifikasikan menjadi :
    - katarak Kongenital: Katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
    - Katarak Juvenil : katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
    - Katarak Senil: katarak setelah usia 50 tahun
    - Katarak Trauma: Katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata
    2.3 Etiologi
    Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda.
    Penyebab katarak lainnya meliputi :
    • Faktor keturunan.
    • Cacat bawaan sejak lahir.
    • Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
    • Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.
    • gangguan metabolisme seperti DM (Diabetus Melitus)
    • gangguan pertumbuhan,
    • Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
    • Rokok dan Alkohol
    • Operasi mata sebelumnya.
    • Trauma (kecelakaan) pada mata.
    • Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.
    2.4 Patofisiologi
    Lensa mata mengandung tiga komponen anatomis an: nukleus korteks & kapsul.nukleus mengalami perubahan warna coklat kekuningan seiring dengan bertambahnya usia.disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri dianterior & posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna.perubahan fisik & kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai infulks air kedalam lensa proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang & mengganggu transmisi sinar.teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peranan dalam melindungi lensa dari degenerasi.jumlah enzim akan menurun dg bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien menderita katarak.



    2.5 Manifestasi Klinik
    Biasanya gejala berupa keluhan penurunan tajam pengelihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif). Pengelihatan seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menja di negatif (-).
    Bila Katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa Glaukoma dan Uveitis.
    Gejala umum gangguan katarak meliputi :
    • Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
    • Peka terhadap sinar atau cahaya.
    • Dapat melihat dobel pada satu mata.
    • Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
    • Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
    2.6 Pemeriksaan Diagnostik
    - Keratometri.
    - Pemeriksaan lampu slit.
    - Oftalmoskopis.
    - A-scan ultrasound (echography).
    - Penghitungan sel endotel penting u/ fakoemulsifikasi & implantasi.
    2.7 Komplikasi
    - Penyulit yg terjadi berupa : visus tdk akan mencapai 5/5 à ambliopia sensori
    - Komplikasi yang terjadi : nistagmus dan strabismus
    2.8 Pencegahan
    Disarankan agar banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vit.C ,vit.A dan vit E

    2.9 Diagnosa keperawatan
    Diagnosa keperawatan yang muncul selama periode peri operasi (pre, intra, dan post operasi) adalah:
    1. Kecemasan berhubungan dengan kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan
    2. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan prosedure tindakan invasiv insisi jaringan tubuh
    3. Nyeri berhubungan dengan perlukaan sekunder operasi miles prosedur
    2.10 Perencanaan Keperawatan
    1. Kecemasan berhubungan dengan kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan
    Tujuan/kriteria evaluasi:
    § Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya.
    § Pasien tampak rileks tidak tegang dan melaporkan kecemasannya berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.
    § Pasien dapat mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang pembedahan
    INTERVENSI RASIONAL
    1. Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda verbal dan nonverbal.
    2. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya.
    3. Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien
    4. Beri penjelasan pasien tentang prosedur tindakan operasi, harapan dan akibatnya.
    5. Beri penjelasan dan suport pada pasien pada setiap melakukan prosedur tindakan
    6. Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan, petugas, dan peralatan yang akan digunakan. 1. Derajat kecemasan akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.
    2. mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut dapat ditujukan.
    3. mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan akibat kecemasan.
    4. meningkatkan pengetahuan pasien dalam rangka mengurangi kecemasan dan kooperatif.
    5. mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan .
    6. mengurangi perasaan takut dan cemas.
    2. Nyeri berhubungan dengan perlukaan sekunder operasi miles prosedur
    Tujuan/kriteria evaluasi:
    § Klien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang
    § Tidak merintih atau menangis
    § Ekspresi wajah rileks
    § Klien mampu beristrahat dengan baik.
    INTERVENSI RASIONAL
    1. Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10).
    2. Motivasi untuk melakukan teknik pengaturan nafas dan mengalihkan perhatian.
    3. Hindari sentuhan seminimal mungkin untuk mengurangi rangsangan nyeri.
    4. Berikan analgetik sesuai dengan program medis. 1. Untuk membantu mengetahui derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesic sehingga memudahkan dalam memberi tindakan.
    2. Tehnik relaksasi dapat mengurangi rangsangan nyeri.
    3. Sentuhan dapat meningkatkan rangsangan nyeri.
    4. Analgesik membantu memblok nyeri.
    3. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan prosedure tindakan invasiv insisi jaringan tubuh (miles prosedur)
    Tujuan/kriteria evalusi:
    § Tidak terjadi penyebaran infeksi selama tindakan prosedur pembedahan ditandai dengan penggunaan teknik antiseptik dan desinfeksi secara tepat dan benar.
    INTERVENSI RASIONAL
    1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan secara tepat.
    2. Ciptakan lingkungan ruangan yang bersih dan babas dari kontaminasi dunia luar
    3. Jaga area kesterilan luka operasi
    4. Lakukan teknik aseptik dan desinfeksi secara tepat dalam merawat luka
    5. Kolaborasi terapi medik pemberian antibiotika profilaksis 1. Melindungi klien dari sumber-sumber infeksi, mencegah infeksi silang.
    2. mengurangi kontaminasi dan paparan pasien terhadap agen infektious.
    3. mencegah dan mengurangi transmisi kuman
    4. mencegah kontaminasi patogen
    5. mencegah pertumbuhan dan perkembangan kuman.
















    DAFTAR PUSTAKA
    Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3. EGC: Jakarta.
    http://www.shoutmix.com/
    www.jakarta-eye-center.com
    Arif, mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculpius.: Jakarta.
    Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Medikal Keperawatan Vol.3. EGC: Jakarta
    Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta

    «
    Next
    Posting Lebih Baru
    »
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar

    Leave a Reply