Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    » »Unlabelled » Askep Hipertensi


    PEBI JULIANTO 07.14 0

    Pengertian
    Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mm Hg
    atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).
    Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG
    dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).
    Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah
    sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau
    lebih. (Barbara Hearrison 1997)
    Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah
    peningkatan tekanan darah yang abnormal dengan sistolik lebih dari 140
    mmHg dan diastolic lebih dari 90 mmHg.

    Etilogi.
    Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi
    terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan
    perifer
    Namun ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
    a. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau
    transport Na.
    b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
    tekanan darah meningkat.
    c. Stress Lingkungan
    d. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta
    pelabaran pembuluh darah.
    Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
    a. Hipertensi Esensial (Primer)
    Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti
    genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system
    rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
    b. Hipertensi Sekunder
    Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal. Penggunaan
    kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
    Patofisiologi
    Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke sel
    jugularis. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Dan
    apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin
    yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada
    angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh
    darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.
    Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan
    retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan
    darah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan
    pada organ organ seperti jantung.

    Manifestasi Klinis
    Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah meningkatkan
    tekanan darah > 140/90 mmHg, sakit kepala, epistaksis, pusing/migrain,
    rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang, lemah dan lelah,
    muka pucat suhu tubuh rendah.

    Komplikasi
    Organ organ tubuh sering terserang akibat hipertensi anatara lain mata
    berupa perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai kebutaan,
    gagal jantung, gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak.
    Penatalaksanaan Medis
    Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis
    penatalaksanaan:
    a. Penatalaksanaan Non Farmakologis.
    1. Diet
    Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan
    tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan
    kadar adosteron dalam plasma.
    2. Aktivitas.
    Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan
    batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,
    bersepeda atau berenang.
    b. Penatalaksanaan Farmakologis.
    Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam
    pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
    1. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
    2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
    3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
    4. Tidak menimbulakn intoleransi.
    5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
    6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
    Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti
    golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,
    golongan penghambat konversi rennin angitensin.

    Test diagnostic.
    a. Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
    (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti :
    hipokoagulabilitas, anemia.
    b. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
    c. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat
    diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
    d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan
    ada DM.
    e. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
    f. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang
    P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
    g. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,
    perbaikan ginjal.
    h. Poto dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,
    pembesaran jantung.

    Pengkajian
    a. Aktivitas/ Istirahat.
    Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
    Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
    b. Sirkulasi
    Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup
    dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
    Tanda :Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,
    radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,
    kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian
    kapiler mungkin lambat/ bertunda.
    c. Integritas Ego.
    Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple
    (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.
    Tanda :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,
    tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola
    bicara.
    d. Eliminasi
    Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat
    penyakit ginjal pada masa yang lalu.)

    e. Makanan/cairan
    Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak
    serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini
    (meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic
    Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.
    f. Neurosensori
    Genjala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala,
    subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan
    setelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,
    epistakis).
    Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,
    efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan.
    g. Nyeri/ ketidaknyaman
    Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakit
    kepala.
    h. Pernafasan
    Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,
    ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
    Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi
    nafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.
    i. Keamanan
    Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.
    j. Pembelajaran/Penyuluhan
    Gejala: Faktor resiko keluarga: hipertensi, aterosporosis, penyakit
    jantung, DM.
    Faktor faktor etnik seperti: orang Afrika-amerika, Asia Tenggara,
    penggunaan pil KB atau hormone lain, penggunaan alcohol/obat.
    Rencana pemulangan : bantuan dengan pemantau diri TD/perubahan dalam
    terapi obat.

    Diagnosa, Kriteria hasil dan Intervensi Keperawatan
    Diagnosa 1 .
    Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi
    pembuluh darah.
    Kriteria Hasil :
    Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / beban
    kerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat
    diterima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang
    normal pasien.
    Intervensi
    1. Observasi tekanan darah (perbandingan dari tekanan memberikan gambaran
    yang lebih lengkap tentang keterlibatan / bidang masalah vaskuler).
    2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer (Denyutan
    karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati / palpasi.
    Dunyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi
    (peningkatan SVR) dan kongesti vena).
    3. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. (S4 umum terdengar pada
    pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3
    menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels,
    mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya
    atau gagal jantung kronik).
    4. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.
    (adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat
    mencerminkan dekompensasi / penurunan curah jantung).
    5. Catat adanya demam umum / tertentu. (dapat mengindikasikan gagal
    jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler).
    6. Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas / keributan
    ligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. (membantu untuk
    menurunkan rangsangan simpatis, meningkatkan relaksasi).
    7. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi. (dapat
    menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang,
    sehingga akan menurunkan tekanan darah).
    8. Kolaborasi dengan dokter dlam pembrian therafi anti
    hipertensi,deuritik. (menurunkan tekanan darah).

    Dignosa 2
    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidak
    seimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
    Kriteria Hasil :
    Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan,
    melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
    Intervensi
    1. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter :
    frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatan
    TD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat,
    pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasien
    terhadap stress, aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja
    / jantung).
    2. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan
    / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian pada
    aktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahat
    penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual).
    3. Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsi
    oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah
    oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan
    tiba-tiba pada kerja jantung).
    4. Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi,
    menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan
    energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan
    suplai dan kebutuhan oksigen).
    5. Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas.
    (Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan
    mencegah kelemahan).

    Diagnosa 3
    Gangguan rasa nyaman nyeri : sakit kepela berhubungan dengan peningkatan
    tekanan vaskuler cerebral.
    Kriteria Hasil :
    Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan tulang / terkontrol, mengungkapkan
    metode yang memberikan pengurangan, mengikuti regiment farmakologi yang
    diresepkan.
    Intervensi
    1. Pertahankan tirah baring selama fase akut. (Meminimalkan stimulasi /
    meningkatkan relaksasi).
    2. Beri tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala,
    misalnya : kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher serta teknik
    relaksasi. (Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dengan
    menghambat / memblok respon simpatik, efektif dalam menghilangkan sakit
    kepala dan komplikasinya).
    3. Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan
    sakit kepala : mengejan saat BAB, batuk panjang,dan membungkuk. (Aktivitas
    yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya
    peningkatkan tekanan vakuler serebral).
    4. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. (Meminimalkan penggunaan
    oksigen dan aktivitas yang berlebihan yang memperberat kondisi klien).
    5. Beri cairan, makanan lunak. Biarkan klien itirahat selama 1 jam setelah
    makan. (menurunkan kerja miocard sehubungan dengan kerja pencernaan).
    6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik, anti ansietas,
    diazepam dll. (Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf
    simpatis).

    Diagnosa 4
    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
    nutrisi in adekuat, keyakinan budaya, pola hidup monoton.
    Kriteria Hasil :
    klien dapat mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan,
    menunjukan perubahan pola makan, melakukan / memprogram olah raga yang
    tepat secara individu.
    Intervensi
    1. Kaji emahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan
    kegemukan. (Kegemukan adalah resiko tambahan pada darah tinggi, kerena
    disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan
    dengan masa tumbuh).
    2. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan
    lemak,garam dan gula sesuai indikasi. (Kesalahan kebiasaan makan menunjang
    terjadinya aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk
    hipertensi dan komplikasinya, misalnya, stroke, penyakit ginjal, gagal
    jantung, kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intra vaskuler
    dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi).
    3. Tetapkan keinginan klien menurunkan berat badan. (motivasi untuk
    penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk
    menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama sekali tidak
    berhasil).
    4. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet. (mengidentivikasi
    kekuatan / kelemahan dalam program diit terakhir. Membantu dalam
    menentukan kebutuhan inividu untuk menyesuaikan / penyuluhan).
    5. Tetapkan rencana penurunan BB yang realistic dengan klien, Misalnya :
    penurunan berat badan 0,5 kg per minggu. (Penurunan masukan kalori
    seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat
    badan 0,5 kg / minggu. Penurunan berat badan yang lambat mengindikasikan
    kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mengubah
    kebiasaan makan).
    6. Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasukkapan
    dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat
    makanan dimakan. (memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang
    dimakan dan kondisi emosi saat makan, membantu untuk memfokuskan perhatian
    pada factor mana pasien telah / dapat mengontrol perubahan).
    7. Intruksikan dan Bantu memilih makanan yang tepat , hindari makanan
    dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging dll)
    dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan,jeroan).
    (Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam
    mencegah perkembangan aterogenesis).
    8. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi. (Memberikan konseling dan
    bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual).

    Diagnosa 5
    Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak
    efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic.
    Kriteria Hasil :
    Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekkuensinya, menyatakan
    kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi, mengidentifikasi potensial
    situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari dan mengubahnya.
    Intervensi
    1. Kaji keefektipan strategi koping dengan mengobservasi perilaku,
    Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan
    berpartisipasi dalam rencana pengobatan. (Mekanisme adaptif perlu untuk
    megubah pola hidup seorang, mengatasi hipertensi kronik dan
    mengintegrasikan terafi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari).
    2. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan
    konsentrasi, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala, ketidak
    mampuan untuk mengatasi / menyelesaikan masalah. (Manifestasi mekanisme
    koping maladaptive mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan
    diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolic).
    3. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan
    strategi untuk mengatasinya. (pengenalan terhadap stressor adalah langkah
    pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor).
    4. Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan partisifasi
    maksimum dalam rencana pengobatan. (keterlibatan memberikan klien
    perasaan kontrol diri yang berkelanjutan. Memperbaiki keterampilan koping,
    dan dapat menigkatkan kerjasama dalam regiment teraupetik.
    5. Dorong klien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup. Tanyakan
    pertanyaan seperti : apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda
    inginkan ?. (Fokus perhtian klien pada realitas situasi yang relatif
    terhadap pandangan klien tentang apa yang diinginkan. Etika kerja keras,
    kebutuhan untuk kontrol dan focus keluar dapat mengarah pada kurang
    perhatian pada kebutuhan-kebutuhan personal).
    6. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan
    hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan ketibang membatalkan tujuan
    diri / keluarga. (Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara
    realistic untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya).

    Diagnosa 6
    Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangn
    Kriteria hasil
    1. Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regiment pengobatan.
    2. Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang
    perlu diperhatikan. Mempertahankan TD dalam parameter normal.
    Intervensi
    3. Bantu klien dalam mengidentifikasi factor-faktor resiko kardivaskuler
    yang dapat diubah, misalnya : obesitas, diet tinggi lemak jenuh, dan
    kolesterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum alcohol (lebih dari 60
    cc / hari dengan teratur) pola hidup penuh stress. (Faktor-faktor resiko
    ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit
    kardiovaskuler serta ginjal).
    4. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.
    (kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang
    sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal klien / orang terdekat untuk
    mempelajari penyakit, kemajuan dan prognosis. Bila klien tidak menerima
    realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku
    tidak akan dipertahankan).
    5. Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian, penyebab, tanda dan
    gejala, pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut. (mengidentivikasi
    tingkat pegetahuan tentang proses penyakit hipertensi dan mempermudahj
    dalam menentukan intervensi).
    6. Jelaskan pada klien tentang proses penyakit hipertensi
    (pengertian,penyebab,tanda dan gejala,pencegahan, pengobatan, dan akibat
    lanjut) melalui penkes. (Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien
    tentang proses penyakit hipertensi).

    IV. Evaluasi
    Resiko penurunan jantung tidak terjadi, intoleransi aktivitas dapat
    teratasi, rasa sakit kepala berkurang bahkan hilang, klien dapat
    mengontrol pemasukan / intake nutrisi, klien dapat menggunakan mekanisme
    koping yang efektif dan tepat, klien paham mengenai kondisi penyakitnya.

    «
    Next
    Posting Lebih Baru
    »
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar

    Leave a Reply