Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    kantornya ada di desa belui, yang dipimpin oleh Prof.Dr........?A.M.K


    Pengertian
    Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mm Hg
    atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).
    Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG
    dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).
    Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah
    sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau
    lebih. (Barbara Hearrison 1997)
    Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hipertensi adalah
    peningkatan tekanan darah yang abnormal dengan sistolik lebih dari 140
    mmHg dan diastolic lebih dari 90 mmHg.

    Etilogi.
    Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi
    terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan
    perifer
    Namun ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
    a. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau
    transport Na.
    b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
    tekanan darah meningkat.
    c. Stress Lingkungan
    d. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta
    pelabaran pembuluh darah.
    Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
    a. Hipertensi Esensial (Primer)
    Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti
    genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system
    rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
    b. Hipertensi Sekunder
    Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal. Penggunaan
    kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
    Patofisiologi
    Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke sel
    jugularis. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Dan
    apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin
    yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada
    angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh
    darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.
    Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkan
    retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan
    darah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan
    pada organ organ seperti jantung.

    Manifestasi Klinis
    Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah meningkatkan
    tekanan darah > 140/90 mmHg, sakit kepala, epistaksis, pusing/migrain,
    rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang, lemah dan lelah,
    muka pucat suhu tubuh rendah.

    Komplikasi
    Organ organ tubuh sering terserang akibat hipertensi anatara lain mata
    berupa perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai kebutaan,
    gagal jantung, gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak.
    Penatalaksanaan Medis
    Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis
    penatalaksanaan:
    a. Penatalaksanaan Non Farmakologis.
    1. Diet
    Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan
    tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan
    kadar adosteron dalam plasma.
    2. Aktivitas.
    Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan
    batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging,
    bersepeda atau berenang.
    b. Penatalaksanaan Farmakologis.
    Secara garis besar terdapat bebrapa hal yang perlu diperhatikan dalam
    pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
    1. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
    2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
    3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
    4. Tidak menimbulakn intoleransi.
    5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
    6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
    Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti
    golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,
    golongan penghambat konversi rennin angitensin.

    Test diagnostic.
    a. Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan
    (viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti :
    hipokoagulabilitas, anemia.
    b. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
    c. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat
    diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
    d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan
    ada DM.
    e. CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
    f. EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang
    P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
    g. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,
    perbaikan ginjal.
    h. Poto dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,
    pembesaran jantung.

    Pengkajian
    a. Aktivitas/ Istirahat.
    Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
    Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
    b. Sirkulasi
    Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup
    dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
    Tanda :Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,
    radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,
    kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian
    kapiler mungkin lambat/ bertunda.
    c. Integritas Ego.
    Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple
    (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.
    Tanda :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,
    tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola
    bicara.
    d. Eliminasi
    Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat
    penyakit ginjal pada masa yang lalu.)

    e. Makanan/cairan
    Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak
    serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini
    (meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic
    Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.
    f. Neurosensori
    Genjala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala,
    subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara spontan
    setelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,
    epistakis).
    Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,
    efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan.
    g. Nyeri/ ketidaknyaman
    Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakit
    kepala.
    h. Pernafasan
    Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,
    ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
    Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi
    nafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.
    i. Keamanan
    Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.
    j. Pembelajaran/Penyuluhan
    Gejala: Faktor resiko keluarga: hipertensi, aterosporosis, penyakit
    jantung, DM.
    Faktor faktor etnik seperti: orang Afrika-amerika, Asia Tenggara,
    penggunaan pil KB atau hormone lain, penggunaan alcohol/obat.
    Rencana pemulangan : bantuan dengan pemantau diri TD/perubahan dalam
    terapi obat.

    Diagnosa, Kriteria hasil dan Intervensi Keperawatan
    Diagnosa 1 .
    Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi
    pembuluh darah.
    Kriteria Hasil :
    Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / beban
    kerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat
    diterima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentang
    normal pasien.
    Intervensi
    1. Observasi tekanan darah (perbandingan dari tekanan memberikan gambaran
    yang lebih lengkap tentang keterlibatan / bidang masalah vaskuler).
    2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer (Denyutan
    karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati / palpasi.
    Dunyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi
    (peningkatan SVR) dan kongesti vena).
    3. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. (S4 umum terdengar pada
    pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3
    menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels,
    mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya
    atau gagal jantung kronik).
    4. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.
    (adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat
    mencerminkan dekompensasi / penurunan curah jantung).
    5. Catat adanya demam umum / tertentu. (dapat mengindikasikan gagal
    jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler).
    6. Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas / keributan
    ligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. (membantu untuk
    menurunkan rangsangan simpatis, meningkatkan relaksasi).
    7. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi. (dapat
    menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang,
    sehingga akan menurunkan tekanan darah).
    8. Kolaborasi dengan dokter dlam pembrian therafi anti
    hipertensi,deuritik. (menurunkan tekanan darah).

    Dignosa 2
    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidak
    seimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
    Kriteria Hasil :
    Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan,
    melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
    Intervensi
    1. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan parameter :
    frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatan
    TD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat,
    pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasien
    terhadap stress, aktivitas dan indicator derajat pengaruh kelebihan kerja
    / jantung).
    2. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan
    / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian pada
    aktivitas dan perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahat
    penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual).
    3. Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsi
    oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah
    oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan
    tiba-tiba pada kerja jantung).
    4. Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi mandi,
    menyikat gigi / rambut dengan duduk dan sebagainya. (teknik penghematan
    energi menurunkan penggunaan energi dan sehingga membantu keseimbangan
    suplai dan kebutuhan oksigen).
    5. Dorong pasien untuk partisifasi dalam memilih periode aktivitas.
    (Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan
    mencegah kelemahan).

    Diagnosa 3
    Gangguan rasa nyaman nyeri : sakit kepela berhubungan dengan peningkatan
    tekanan vaskuler cerebral.
    Kriteria Hasil :
    Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan tulang / terkontrol, mengungkapkan
    metode yang memberikan pengurangan, mengikuti regiment farmakologi yang
    diresepkan.
    Intervensi
    1. Pertahankan tirah baring selama fase akut. (Meminimalkan stimulasi /
    meningkatkan relaksasi).
    2. Beri tindakan non farmakologi untuk menghilangkan sakit kepala,
    misalnya : kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher serta teknik
    relaksasi. (Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dengan
    menghambat / memblok respon simpatik, efektif dalam menghilangkan sakit
    kepala dan komplikasinya).
    3. Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan
    sakit kepala : mengejan saat BAB, batuk panjang,dan membungkuk. (Aktivitas
    yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya
    peningkatkan tekanan vakuler serebral).
    4. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan. (Meminimalkan penggunaan
    oksigen dan aktivitas yang berlebihan yang memperberat kondisi klien).
    5. Beri cairan, makanan lunak. Biarkan klien itirahat selama 1 jam setelah
    makan. (menurunkan kerja miocard sehubungan dengan kerja pencernaan).
    6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik, anti ansietas,
    diazepam dll. (Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf
    simpatis).

    Diagnosa 4
    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
    nutrisi in adekuat, keyakinan budaya, pola hidup monoton.
    Kriteria Hasil :
    klien dapat mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan,
    menunjukan perubahan pola makan, melakukan / memprogram olah raga yang
    tepat secara individu.
    Intervensi
    1. Kaji emahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dengan
    kegemukan. (Kegemukan adalah resiko tambahan pada darah tinggi, kerena
    disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan
    dengan masa tumbuh).
    2. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan
    lemak,garam dan gula sesuai indikasi. (Kesalahan kebiasaan makan menunjang
    terjadinya aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk
    hipertensi dan komplikasinya, misalnya, stroke, penyakit ginjal, gagal
    jantung, kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intra vaskuler
    dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi).
    3. Tetapkan keinginan klien menurunkan berat badan. (motivasi untuk
    penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk
    menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama sekali tidak
    berhasil).
    4. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet. (mengidentivikasi
    kekuatan / kelemahan dalam program diit terakhir. Membantu dalam
    menentukan kebutuhan inividu untuk menyesuaikan / penyuluhan).
    5. Tetapkan rencana penurunan BB yang realistic dengan klien, Misalnya :
    penurunan berat badan 0,5 kg per minggu. (Penurunan masukan kalori
    seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat
    badan 0,5 kg / minggu. Penurunan berat badan yang lambat mengindikasikan
    kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mengubah
    kebiasaan makan).
    6. Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasukkapan
    dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat
    makanan dimakan. (memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang
    dimakan dan kondisi emosi saat makan, membantu untuk memfokuskan perhatian
    pada factor mana pasien telah / dapat mengontrol perubahan).
    7. Intruksikan dan Bantu memilih makanan yang tepat , hindari makanan
    dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging dll)
    dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan,jeroan).
    (Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam
    mencegah perkembangan aterogenesis).
    8. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi. (Memberikan konseling dan
    bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual).

    Diagnosa 5
    Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak
    efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic.
    Kriteria Hasil :
    Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekkuensinya, menyatakan
    kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi, mengidentifikasi potensial
    situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari dan mengubahnya.
    Intervensi
    1. Kaji keefektipan strategi koping dengan mengobservasi perilaku,
    Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan
    berpartisipasi dalam rencana pengobatan. (Mekanisme adaptif perlu untuk
    megubah pola hidup seorang, mengatasi hipertensi kronik dan
    mengintegrasikan terafi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari).
    2. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan
    konsentrasi, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala, ketidak
    mampuan untuk mengatasi / menyelesaikan masalah. (Manifestasi mekanisme
    koping maladaptive mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan
    diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolic).
    3. Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan
    strategi untuk mengatasinya. (pengenalan terhadap stressor adalah langkah
    pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stressor).
    4. Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan partisifasi
    maksimum dalam rencana pengobatan. (keterlibatan memberikan klien
    perasaan kontrol diri yang berkelanjutan. Memperbaiki keterampilan koping,
    dan dapat menigkatkan kerjasama dalam regiment teraupetik.
    5. Dorong klien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup. Tanyakan
    pertanyaan seperti : apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda
    inginkan ?. (Fokus perhtian klien pada realitas situasi yang relatif
    terhadap pandangan klien tentang apa yang diinginkan. Etika kerja keras,
    kebutuhan untuk kontrol dan focus keluar dapat mengarah pada kurang
    perhatian pada kebutuhan-kebutuhan personal).
    6. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan
    hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan ketibang membatalkan tujuan
    diri / keluarga. (Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara
    realistic untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya).

    Diagnosa 6
    Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan kurangn
    Kriteria hasil
    1. Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regiment pengobatan.
    2. Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang
    perlu diperhatikan. Mempertahankan TD dalam parameter normal.
    Intervensi
    3. Bantu klien dalam mengidentifikasi factor-faktor resiko kardivaskuler
    yang dapat diubah, misalnya : obesitas, diet tinggi lemak jenuh, dan
    kolesterol, pola hidup monoton, merokok, dan minum alcohol (lebih dari 60
    cc / hari dengan teratur) pola hidup penuh stress. (Faktor-faktor resiko
    ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit
    kardiovaskuler serta ginjal).
    4. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.
    (kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang
    sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal klien / orang terdekat untuk
    mempelajari penyakit, kemajuan dan prognosis. Bila klien tidak menerima
    realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku
    tidak akan dipertahankan).
    5. Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian, penyebab, tanda dan
    gejala, pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut. (mengidentivikasi
    tingkat pegetahuan tentang proses penyakit hipertensi dan mempermudahj
    dalam menentukan intervensi).
    6. Jelaskan pada klien tentang proses penyakit hipertensi
    (pengertian,penyebab,tanda dan gejala,pencegahan, pengobatan, dan akibat
    lanjut) melalui penkes. (Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien
    tentang proses penyakit hipertensi).

    IV. Evaluasi
    Resiko penurunan jantung tidak terjadi, intoleransi aktivitas dapat
    teratasi, rasa sakit kepala berkurang bahkan hilang, klien dapat
    mengontrol pemasukan / intake nutrisi, klien dapat menggunakan mekanisme
    koping yang efektif dan tepat, klien paham mengenai kondisi penyakitnya.

    oleh: Pebi julianto


    1. DEFINISI

    Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999).

    Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)


    1. ETIOLOGI

    1. Virus


    Type A

    Type B

    Type C

    Type D

    Type E

    Metode transmisi

    Fekal-oral melalui orang lain

    Parenteral seksual, perinatal

    Parenteral jarang seksual, orang ke orang, perinatal

    Parenteral perinatal, memerlukan koinfeksi dengan type B


    Fekal-oral

    Keparah-an

    Tak ikterik dan asimto- matik

    Parah

    Menyebar luas, dapat berkem-bang sampai kronis

    Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut


    Sama dengan D

    Sumber virus

    Darah, feces, saliva

    Darah, saliva, semen, sekresi vagina

    Terutama melalui darah

    Melalui darah

    Darah, feces, saliva


    1. Alkohol

    Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.


    1. Obat-obatan

    Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut.


    1. TANDA DAN GEJALA

    1. Masa tunas

    Virus A : 15-45 hari (rata-rata 25 hari)

    Virus B : 40-180 hari (rata-rata 75 hari)

    Virus non A dan non B : 15-150 hari (rata-rata 50 hari)

    1. Fase Pre Ikterik

    Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B.

    1. Fase Ikterik

    Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.

    1. Fase penyembuhan

    Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.


    1. PATOFOSIOLOGI

    Patways terlampir.

    Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.

    Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati.

    Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.

    Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.


    1. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

    1. Laboratorium

      1. Pemeriksaan pigmen

    • urobilirubin direk

    • bilirubun serum total

    • bilirubin urine

    • urobilinogen urine

    • urobilinogen feses

      1. Pemeriksaan protein

    • protein totel serum

    • albumin serum

    • globulin serum

    • HbsAG

      1. Waktu protombin

    - respon waktu protombin terhadap vitamin K

      1. Pemeriksaan serum transferase dan transaminase

    • AST atau SGOT

    • ALT atau SGPT

    • LDH

    • Amonia serum

    1. Radiologi

    • foto rontgen abdomen

    • pemindahan hati denagn preparat technetium, emas, atau rose bengal yang berlabel radioaktif

    • kolestogram dan kalangiogram

    • arteriografi pembuluh darah seliaka

    1. Pemeriksaan tambahan

    • laparoskopi

    • biopsi hati


    1. KOMPLIKASI

    Ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik toksik merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.

    ASUHAN KEPERAWATAN


    1. PENGKAJIAN

    Data dasar tergantung pada penyebab dan beratnya kerusakan/gangguan hati

      1. Aktivitas

        • Kelemahan

        • Kelelahan

        • Malaise


      2. Sirkulasi

        • Bradikardi ( hiperbilirubin berat )

        • Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa

      3. Eliminasi

        • Urine gelap

        • Diare feses warna tanah liat

      4. Makanan dan Cairan

        • Anoreksia

        • Berat badan menurun

        • Mual dan muntah

        • Peningkatan oedema

        • Asites

      5. Neurosensori

        • Peka terhadap rangsang

        • Cenderung tidur

        • Letargi

        • Asteriksis

      6. Nyeri / Kenyamanan

        • Kram abdomen

        • Nyeri tekan pada kuadran kanan

        • Mialgia

        • Atralgia

        • Sakit kepala

        • Gatal ( pruritus )


      1. Keamanan

        • Demam

        • Urtikaria

        • Lesi makulopopuler

        • Eritema

        • Splenomegali

        • Pembesaran nodus servikal posterior

      2. Seksualitas

        • Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan


    1. DIAGNOSA KEPERAWATAN

    Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada penderita hepatitis :

    1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.

    2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.

    3. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar

    4. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis

    5. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu

    6. Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus


    1. INTERVENSI

    1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.

    Hasil yang diharapkan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.

    1. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan

    R/ keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan

    1. Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering

    R/ adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.

    1. Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan

    R/ akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah baru dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.

    1. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak

    R/ menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan

    1. Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak

    R/ glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolisme sehingga akan membebani hepar.


    1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.

    Hasil yang diharapkan :

    Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)

    1. Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri

    R/ nyeri yang berhubungan dengan hepatitis sangat tidak nyaman, oleh karena terdapat peregangan secara kapsula hati, melalui pendekatan kepada individu yang mengalami perubahan kenyamanan nyeri diharapkan lebih efektif mengurangi nyeri.

    1. Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri

    • Akui adanya nyeri

    • Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya

    R/ klienlah yang harus mencoba meyakinkan pemberi pelayanan kesehatan bahwa ia mengalami nyeri

    1. Berikan informasi akurat dan

    • Jelaskan penyebab nyeri

    • Tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui

    R/ klien yang disiapkan untuk mengalami nyeri melalui penjelasan nyeri yang sesungguhnya akan dirasakan (cenderung lebih tenang dibanding klien yang penjelasan kurang/tidak terdapat penjelasan)

    1. Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi

    R/ kemungkinan nyeri sudah tak bisa dibatasi dengan teknik untuk mengurangi nyeri.


    1. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar.

    Hasil yang diharapkan :

    Tidak terjadi peningkatan suhu

    1. Monitor tanda vital : suhu badan

    R/ sebagai indikator untuk mengetahui status hypertermi

    1. Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari) untuk mencegah dehidrasi, misalnya sari buah 2,5-3 liter/hari.

    R/ dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya dehidrasi




    1. Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan femur

    R/ menghambat pusat simpatis di hipotalamus sehingga terjadi vasodilatasi kulit dengan merangsang kelenjar keringat untuk mengurangi panas tubuh melalui penguapan

    1. Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat

    R/ kondisi kulit yang mengalami lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur. Juga akan mengurangi kenyamanan klien, mencegah timbulnya ruam kulit.


    1. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis

    1. Jelaskan sebab-sebab keletihan individu

    R/ dengan penjelasan sebab-sebab keletihan maka keadaan klien cenderung lebih tenang

    1. Sarankan klien untuk tirah baring

    R/ tirah baring akan meminimalkan energi yang dikeluarkan sehingga metabolisme dapat digunakan untuk penyembuhan penyakit.

    1. Bantu individu untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan, kemampuan-kemampuan dan minat-minat

    R/ memungkinkan klien dapat memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang sangat penting dan meminimalkan pengeluaran energi untuk kegiatan yang kurang penting

    1. Analisa bersama-sama tingkat keletihan selama 24 jam meliputi waktu puncak energi, waktu kelelahan, aktivitas yang berhubungan dengan keletihan

    R/ keletihan dapat segera diminimalkan dengan mengurangi kegiatan yang dapat menimbulkan keletihan

    1. Bantu untuk belajar tentang keterampilan koping yang efektif (bersikap asertif, teknik relaksasi)

    R/ untuk mengurangi keletihan baik fisik maupun psikologis



    1. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu

    Hasil yang diharapkan :

    Jaringan kulit utuh, penurunan pruritus.

    1. Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering

    • Sering mandi dengan menggunakan air dingin dan sabun ringan (kadtril, lanolin)

    • Keringkan kulit, jaringan digosok

    R/ kekeringan meningkatkan sensitifitas kulit dengan merangsang ujung syaraf

    1. Cegah penghangatan yang berlebihan dengan pertahankan suhu ruangan dingin dan kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu tebal

    R/ penghangatan yang berlebih menambah pruritus dengan meningkatkan sensitivitas melalui vasodilatasi

    1. Anjurkan tidak menggaruk, instruksikan klien untuk memberikan tekanan kuat pada area pruritus untuk tujuan menggaruk

    R/ penggantian merangsang pelepasan hidtamin, menghasilkan lebih banyak pruritus

    1. Pertahankan kelembaban ruangan pada 30%-40% dan dingin

    R/ pendinginan akan menurunkan vasodilatasi dan kelembaban kekeringan


    1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan pengumpulan cairan intraabdomen, asites penurunan ekspansi paru dan akumulasi sekret.

    Hasil yang diharapkan :

    Pola nafas adekuat

    Intervensi :

    1. Awasi frekwensi , kedalaman dan upaya pernafasan

    R/ pernafasan dangkal/cepat kemungkinan terdapat hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen


    1. Auskultasi bunyi nafas tambahan

    R/ kemungkinan menunjukkan adanya akumulasi cairan

    1. Berikan posisi semi fowler

    R/ memudahkan pernafasan denagn menurunkan tekanan pada diafragma dan meminimalkan ukuran sekret

    1. Berikan latihan nafas dalam dan batuk efektif

    R/ membantu ekspansi paru dalam memobilisasi lemak

    1. Berikan oksigen sesuai kebutuhan

    R/ mungkin perlu untuk mencegah hipoksia


    1. Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus

    Hasil yang diharapkan :

    Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.

    1. Gunakan kewaspadaan umum terhadap substansi tubuh yang tepat untuk menangani semua cairan tubuh

    • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan semua klien atau spesimen

    • Gunakan sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh

    • Tempatkan spuit yang telah digunakan dengan segera pada wadah yang tepat, jangan menutup kembali atau memanipulasi jarum dengan cara apapun

    R/ pencegahan tersebut dapat memutuskan metode transmisi virus hepatitis

    1. Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius, linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk membersihkan peralatan-peralatan dan permukaan yang terkontaminasi

    R/ teknik ini membantu melindungi orang lain dari kontak dengan materi infeksius dan mencegah transmisi penyakit

    1. Jelaskan pentingnya mencuci tangan dengan sering pada klien, keluarga dan pengunjung lain dan petugas pelayanan kesehatan.

    R/ mencuci tangan menghilangkan organisme yang merusak rantai transmisi infeksi

    1. Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk evaluasi departemen kesehatan yang tepat

    R/ rujukan tersebut perlu untuk mengidentifikasikan sumber pemajanan dan kemungkinan orang lain terinfeksi

    DAFTAR PUSTAKA


    Carpenito Lynda Jual, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta.

    Gallo, Hudak, 1995, Keperawatan Kritis, EGC, Jakarta.

    Hadim Sujono, 1999, Gastroenterologi, Alumni Bandung.

    Moectyi, Sjahmien, 1997, Pengaturan Makanan dan Diit untuk Pertumbuhan Penyakit, Gramedia Pustaka Utama Jakarta.

    Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, EGC, Jakarta.

    Smeltzer, suzanna C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddart. Alih bahasa Agung Waluyo, Edisi 8, jakarta, EGC, 2001.

    Susan, Martyn Tucker et al, Standar Perawatan Pasien, jakarta, EGC, 1998.

    Reeves, Charlene, et al,Keperawatan Medikal Bedah, Alih bahasa Joko Setiyono, Edisi I, jakarta, Salemba Medika.

    Sjaifoellah Noer,H.M, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga, Balai Penerbit FKUI, jakarta.

    Oleh : Pebi Julianto

    PENGERTIAN

    • Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649).
    • Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).
    • Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212).
    • Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman, 2004:157).
    • Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.
    • Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk :
    1. Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.
    2. Sebagai cadangan protein tubuh.
    3. Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen).
    4. Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.
    5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.
    Dalam darah ada 3 fraksi protein, yaitu : Albumin, globulin, fibrinogen.

    ETIOLOGI
    • Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).
    • Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).

    PATOFISIOLOGI
    Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).

    MANIFESTASI KLINIK
    Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. (Nelson,1999).

    Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut :
    1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua
    2. Lethargi
    3. Irritable
    4. Kulit keriput (turgor kulit jelek)
    5. Ubun-ubun cekung pada bayi
    6. Jaingan subkutan hilang
    7. Malaise
    8. Kelaparan
    9. Apatis

    PENATALAKSANAAN
    1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
    2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
    3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
    4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.

    Penanganan KKP berat
    Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi.
    Upaya pengobatan, meliputi :
    - Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi.
    - Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik
    - Pengobatan infeksi
    - Pemberian makanan
    - Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung.

    Menurut Arisman, 2004:105
    - Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi.
    - Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam.
    - Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam.
    - Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.
    - Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.

    Menurut Nuchsan Lubis
    Penatalaksanaan penderita marasmus yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :
    1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV.
    - cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%.
    - Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
    - Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
    - Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.
    2. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan
    - Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari.
    - Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari.
    - Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari.

    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
    1. Pemeriksaan Fisik
    a. Mengukur TB dan BB
    b. Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter)
    c. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
    d. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).
    2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.

    FOKUS INTERVENSI
    1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004)
    Tujuan :
    Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
    Kriteria hasil :
    meningkatkan masukan oral.
    Intervensi :
    a. Dapatkan riwayat diet
    b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan
    c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan
    d. Gunakan alat makan yang dikenalnya
    e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka
    f. Sajikan makansedikit tapi sering
    g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah

    2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140)
    Tujuan :
    Tidak terjadi dehidrasi
    Kriteria hasil :
    Mukosa bibir lembab, tidak terjadi peningkatan suhu, turgor kulit baik.
    Intervensi :
    a. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi
    b. Monitor jumlah dan tipe masukan cairan
    c. Ukur haluaran urine dengan akurat

    3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik. (Doengoes, 2000).
    Tujuan :
    Tidak terjadi gangguan integritas kulit
    Kriteria hasil :
    kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal
    Intervesi :
    a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi
    b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi
    c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang
    d. Alih baring

    4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh
    Tujuan :
    Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
    Kriteria hasil:
    suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal

    Intervensi :
    a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
    b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril
    c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol infeksi
    d. Beri antibiotik sesuai program

    5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004)
    Tujuan :
    pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
    Kriteria hasil:
    Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.
    Intervensi :
    a. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien
    b. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi
    c. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat
    d. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien

    6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157).
    Tujuan :
    Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.
    Kriteria hasil :
    Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas motorik sesuai dengan usianya.
    Intervensi :
    a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.
    b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II
    c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan
    d. Berikan mainan sesuai usia anak.

    7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3)
    Tujuan :
    Anak mampu beraktifitas sesuai dengan kemampuannya.
    Kriteria hasil :
    Menunjukkan kembali kemampuan melakukan aktifitas.
    Intervensi :
    a. Berikan permainan dan aktifitas sesuai dengan usia
    b. Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga pasien

    8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143).
    Tujuan :
    Kelebihan volume cairan tidak terjadi.
    Kriteria hasil :
    Menyebutkan faktor-faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema, memperlihatkan penurunan edema perifer dan sacral.
    Intervensi :
    a. Pantau kulit terhadap tanda luka tekan
    b. Ubah posisi sedikitnya 2 jam
    c. Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi cairan.

    ASUHAN KEPERAWATAN
    PADA PASIEN DENGAN LEUKEMIA


    A. PENGERTIAN
    Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi ssel darah putih dalam sumusm tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.

    B. ETIOLOGI
    Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :
    1. Faktor genetik : virus tertentu meyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T cell leukemia-lymphoma virus/HTLV)
    2. Radiasi ionisasi : lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya
    3. Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik.
    4. Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol
    5. Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
    6. Kelainan kromosom : Sindrom Bloom’s, trisomi 21 (Sindrom Down’s), Trisomi G (Sindrom Klinefelter’s), Sindrom fanconi’s, Kromosom Philadelphia positif, Telangiektasis ataksia.

    C. JENIS LEUKEMIA
    1. Leukemia Mielogenus Akut
    AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
    2. Leukemia Mielogenus Kronis
    CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
    3. Luekemia Limfositik Akut
    ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal..
    4. Leukemia Limfositik Kronis
    CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.



    D. PATHWAY

    E. TANDA DAN GEJALA
    1. Aktivitas : kelelahan, kelemahan, malaise, kelelahan otot.
    2. Sirkulasi :palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa pucat.
    3. Eliminsi : diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang, feses hitam, penurunan haluaran urin.
    4. Integritas ego : perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, mudah terangsang, ansietas.
    5. Makanan/cairan: anoreksia, muntah, perubahan rasa, faringitis, penurunan BB dan disfagia
    6. Neurosensori : penurunan koordinasi, disorientasi, pusing kesemutan, parestesia, aktivitas kejang, otot mudah terangsang.
    7. Nyeri : nyeri abomen, sakit kepala, nyeri sendi, perilaku hati-hati gelisah
    8. Pernafasan : nafas pendek, batuk, dispneu, takipneu, ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas
    9. Keamanan : gangguan penglihatan, perdarahan spontan tidak terkontrol, demam, infeksi, kemerahan, purpura, pembesaran nodus limfe.
    10. Seksualitas : perubahan libido, perubahan menstruasi, impotensi, menoragia.

    F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. Hitung darah lengkap : menunjukkan normositik, anemia normositik
    2. Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100ml
    3. Retikulosit : jumlah biasaya rendah
    4. Trombosit : sangat rendah (< 50000/mm)
    5. SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP immatur
    6. PTT : memanjang
    7. LDH : mungkin meningkat
    8. Asam urat serum : mungkin meningkat
    9. Muramidase serum : pengikatan pada leukemia monositik akut dan mielomonositik
    10. Copper serum : meningkat
    11. Zink serum : menurun
    12. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan

    G. PENATALAKSANAAN
    1. Pelaksanaan kemoterapi
    2. Irradiasi kranial
    3. Terdapat tiga fase pelaksanaan keoterapi :
    a. Fase induksi
    Dimulasi 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi kortikostreroid (prednison), vincristin dan L-asparaginase. Fase induksi dinyatakan behasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.
    b. Fase Profilaksis Sistem saraf pusat
    Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hydrocotison melaui intrathecal untuk mencegah invsi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.
    c. Konsolidasi
    Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan unutk mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi.



    H. PENGKAJIAN
    1. Riwayat penyakit : pengobatan kanker sebelumnya
    2. Riwayat keluarga : adanya gangguan hematologis, adanya faktor herediter misal kembar monozigot)
    3. Kaji adanya tanda-tanda anemia : kelemahan, kelelahan, pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak, nafas cepat
    4. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia : demam, stomatitis, gejala infeksi pernafasan atas, infeksi perkemihan; infeksi kulit dapat timbul kemerahan atau hiotam tanpa pus
    5. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : ptechiae, purpura, perdarahan membran mukosa, pembentukan hematoma, purpura; kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medula: limfadenopati, hepatomegali, splenomegali.
    6. Kaji adanya pembesaran testis, hemAturia, hipertensi, gagal ginjal, inflamasi di sekkitar rektal dan nyeri.

    I. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
    1. Resiko tinggi infeksi berhubungn dengan menururnnya sistem pertahanan tubuh sekunder gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah limfosit immatur, imunosupresi, peneknan sumsum tulang.
    Tujuan : pasien bebas dari infeksi
    Kriteria hasil :
    a. Normotermia
    b. Hasil kultur negatif
    c. Peningkatan penyembuhan
    Intervensi :
    a. Tempatkan pada ruangan yang khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
    b. Cuci tangan untuk semua petugas dan pengunjung.
    c. Awsi suhu, perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan takikardia, hipotensi, perubahan mental samar.
    d. Cegah menggigil : tingkatkan cairan, berikan mandi kompres
    e. Dorong sering mengubah posisi, napas dalam dan batuk.
    f. Auskultsi bunyi nafas, perhatikan gemericik, ronkhi; inspeksi sekresi terhadap perubahan karakteristik, contoh peningktatan sputum atau sputum kental, urine bau busuk dengan berkemih tiba-tiba atau rasa terbakar.
    g. Inspeksi kulit unutk nyeri tekan, area eritematosus; luka terbuka. Besihkan kulit dengan larutan antibakterial.
    h. Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan sikat gigi halus.
    i. Tingkatkan kebersihan perianal. Berikan rendam duduk menggunakan betadine atau Hibiclens bila diindiksikan.
    j. Berikan periode istirahat tanpa gangguan
    k. Dorong peningkatan masukan makanan tinggi protein dan cairan.
    l. Hindari prosedur invasif (tusukan jarum dan injeksi) bila mungkin.
    m. Kolaborasi :
     Awasi pemeriksaan laboratorium misal : hitung darah lerngkap, apakah SDP turun atau tiba-tiba terjadi perubahan pada neutrofil; kultur gram/sensitivitas.
     Kaji ulang seri foto dada.
     Berikan obat sesuai indikasi contoh antibiotik.
     Hindari antipiretik yang mengandung aspirin.
     Berikan diet rendah bakteri misal makanan dimasak, diproses
    2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan : muntah, perdarahan,diare ; penurunan pemasukan cairan : mual,anoreksia ; peningkatan kebutuhan cairan : demam, hipermetabolik
    Tujuan : volume cairan terpenuhi
    Kriteria hasil :
    a. Volume cairan adekuat
    b. Mukosa lembab
    c. Tanda vital stabil : TD 90/60 mmHg, nadi 100 x/menit, RR 20 x/mnt
    d. Nadi teraba
    e. Haluaran urin 30 ml/jam
    f. Kapileri refill < 2 detik
    Intervensi :
    a. Awasi masukan/haluaran. Hitung kehilangan cairan dan keseimbangna cairan. Perhatikan penurunan urin, ukur berat jenis dan pH urin.
    b. Timbang berat badan tiap hari
    c. Awasi TD dan frekuensi jantung
    d. Evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan kondisi membran mukosa.
    e. Beri masukan cairan 3-4 L/hari
    f. Inspeksi kulit/membran mukosa untuk petekie, area ekimosis; perhatikan perdarahan gusi, darah warna karat atau samar pada feses dan urin; perdarahan lanjut dari sisi tusukan invsif.
    g. Implementasikan tindakan untuk mencegah cedera jaringan/perdarahan.
    h. Batasi perawatan oral untuk mencuci mulut bila diindikasikan
    i. Berikan diet halus.
    j. Kolaborasi :
     Berikan cairan IV sesuai indikasi
     Awasi pemeriksaan laboratorium : trombosit, Hb/Ht, pembekuan.
     Berikan SDM, trombosit, faktor pembekuan.
     Pertahankan alat akses vaskuler sentral eksternal (kateter arteri subklavikula, tunneld, port implan)
     Berikan obat sesuai indikasi : Ondansetron, allopurinol, kalium asetat atau asetat, natrium biukarbonat, pelunak feses.

    3. Nyeri berhubungan dengan agen fisikal seperti pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemia; agen kimia pengobatan antileukemik
    Tujuan : nyeri teratasi
    Kriteria hasil :
    a. Pasien menyatakan nyeri hilang atau terkontrol
    b. Menunjukkan perilaku penanganan nyeri
    c. Tampak rileks dan mampu istirahat

    Intervensi :
    a. Kaji keluhan nyeri, perhatikan perubahan pada derajat dan sisi (gunakan skala 0-10)
    b. Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non-verbal misal tegangan otot, gelisah.
    c. Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stres.
    d. Tempatkan pada posis nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantal.
    e. Ubah posisi secara periodik dan bantu latihan rentang gerak lembut.
    f. Berikan tindakan kenyamanan ( pijatan, kompres dingin dan dukungan psikologis)
    g. Kaji ulang/tingkatkan intervensi kenyamanan pasien sendiri
    h. Evaluasi dan dukung mekanisme koping pasien.
    i. Dorong menggunakan teknik menajemen nyeri contoh latihan relaksasi/nafas dalam, sentuhan.
    j. Bantu aktivitas terapeutik, teknik relaksasi.
    k. Kolaborasi :
     Awasi kadar asam urat
     Berika obat sesuai indikasi : analgesik (asetaminofen), narkotik (kodein, meperidin, morfin, hidromorfon)
     Agen antiansietas (diazepam, lorazepam)

    4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, peningkatan laju metabolik
    Tujuan : pasien mampu mentoleransi aktivitas
    Kriteria hasil :
    a. Peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur
    b. Berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan
    c. Menunjukkan penurunan tanda fisiologis tidak toleran misal nadi, pernafasan dan TD dalam batas normal


    Intervensi :
    d. Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas.berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa ganggaun
    e. Implementasikan teknik penghematan energi, contoh lebih baik duduk daripada berdiri, pengunaan kursi untuk madi
    f. Jadwalkan makan sekitar kemoterapi. Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan antiemetik sesuai indikasi
    g. Kolaborasi : berikan oksigen tambahan

    5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
    Tujuan : pasien bebas dari gejala perdarahan
    Kriteria hasil :
    a. TD 90/60mmHg
    b. Nadi 100 x/mnt
    c. Ekskresi dan sekresi negtif terhadap darah
    d. Ht 40-54% (laki-laki), 37-47% ( permpuan)
    e. Hb 14-18 gr%
    Intervensi :
    f. Pantau hitung trombosit dengan jumlah 50.000/ ml, resiko terjadi perdarahan. Pantau Ht dan Hb terhadap tanda perdarahan
    g. Minta pasien untuk mengingatkan perawat bila ada rembesan darah dari gusi
    h. Inspeksi kulit, mulut, hidung urin, feses, muntahan dan tempat tusukan IV terhadap perdarahan
    i. Pantau TV interval sering dan waspadai tanda perdarahan.
    j. Gunakan jarum ukuran kecil
    k. Jika terjadi perdarahan, tinggikan bagian yang sakit dan berikan kompres dingin dan tekan perlahan.
    l. Beri bantalan tempat tidur untuk cegh trauma
    m. Anjurkan pada pasien untuk menggunakan sikat gigi halus atau pencukur listrik.
    6. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan terhentinya aliran darah sekunder adanya destruksi SDM
    Tujuan : perfusi adekuat
    Kriteria hasil :
    a. Masukan dan haluaran seimbang
    b. Haluaran urin 30 ml/jam
    c. Kapileri refill < 2 detik
    d. Tanda vital stabil
    e. Nadi perifer kuat terpalpasi
    f. Kulit hangat dan tidak ada sianosis
    Intervensi :
    a. Awasi tanda vital
    b. Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, kelambatan pengisian kapiler
    c. Catat perubahan tingkat kesadaran
    d. Pertahankan masukan cairan adekuat
    e. Evaluasi terjadinya edema
    f. Kolaborasi :
     Awasi pemeriksaan laboratorium ; GDA, AST/ALT, CPK, BUN
     Elektrolit serum, berikan pengganti sesuai indikasi
     Berikan cairan hipoosmolar



    DAFTAR PUSTAKA

    1. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
    2. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998
    3. Doenges, Marilynn E. Nursing Care Plans: Guidelines For Planning And Documenting Patient Care. Alih Bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC; 1999
    4. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994
    5. Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta : Salemba Medika; 2001