Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    » »Unlabelled » OBAT ANTI MIKROBA


    PEBI JULIANTO 06.42 0

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur penulis mengucapkan kehadirat Allah SWT yang elah memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah farmakologi ini dengan judul “ Obat Anti Mikroba” .
    Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah farmakologi. Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mengalami hambatan dan kesulitan. Namun, berkat bimbingan, bantuan dan dorongan moril dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan
    Sehubungan dengan hal tersebut, perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
    1. Lesi Oktavia, S.Farm. Apt. ( dosen pembimbing )
    2. Reci Emilia
    3. Nanik manda sari
    4. Teman sekelompok
    Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
    Penulis mengharapkan semoga makalahini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi tenaga keperawatan khususnya

    Belui, juni 2009

    Penulis







    OBAT ANTI MIKROBA

    1. Definisi
    Antimikroba (AM) adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia. Dalam pembicaraan di sini, yang dimaksudkan dengan mikroba terbatas pada jasad renik yang tidak termasuk kelompok parasit.
    Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotic dewasa ini dibuat secara semisintetic atau sintetik penuh. Namun dalam praktek sehari-hari AM sintetik yang tidak diturunkan dari produk mikraba juga sering digolongkan sebagai antibiotik.
    Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia digantungkan harus memilki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin.

    2. Aktifitas Antimikroba
    Berdasarkan anti sifat toksisitas selektif, aktifitas antimikroba terbagi dua yaitu aktifitas bakteriostatik dan aktifitas bakterisit. Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikrobaatau membunuhnya, masing-masing dikenal sebagai kadar hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM).
    Sifat antimikroba dapat berbeda satu dengan lainnya. Umpamanya pensilin G bersifat aktif terutama terhadap bakteri gram positif, sedangkan baktiri gram negative tidak peka terhadap penisilin G.

    3. Mekanisme Kerja Antimikroba
    Pemusnahan mikroba dengan antimikroba yang bersifat bakteri ostatik masih tergantung dari kesanggupan reaksi daya tahan tubuh hospes. Peranan namanya kontak antara mikroba dengan antimikroba dalam kadar efektif juga sangat menentukan untuk mendapatkan efek khususnya pada tuberkulostatik.
    Berdasarkan mekanisme kerjanya antimikroba dibagi kedalam lima kelompok, yaitu:
    1. yang mengganggu metabolisme sel mikroba
    2. yang menghambat sintetis dinding sel mikroba
    3. yang mengganggu termiabilitas membrane sel mikroba
    4. yang mengambat sintetis protein sel mikroba
    5. yang menghambat sintetis atau merusak asam nukleat sel mikroba

    4. Resistensi
    Resistensi sel mikroba ialah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antimikroba sifat ini dapat merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup.
    Factor yang menentukan sifat resistensi atau sensitifitas mikroba terhadap AM terdapat pada elemen yang bersifat genetic. Sifat genetic dapat menyebabkan suatu mikroba sejak awal resisten terhadap suatu antimikroba. Contahnya bakteri gram negative yang resisten terhadap penisilin G.
    Mikroba yang semula peka terhadap suatu antimikroba, dapat berubah sifat genetiknya menjadi tidak atau kurang peka. Perubahan sifat genetic terjadi karena kuman memperoleh elemen genetic yang membawa sifat resisten.

    5. Efek Samping
    Efek samping penggunaan AM dapat dikelompokkan menurut reaksi alergi, reaksi indiosinkrasi, reaksi toksit, serta perubahan biologig dan metabolic pada hospes.
    Reaksi alergi
    Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh semua antibiotic dengan melibatkan system imun tubuh hospes. Terjadinya tidak bergantung pada besarnya dosis obat.
    Reaksi idiosinkrasi
    Gejala ini merupakan reaksi abnormal yang diturunkan secara genetic terhadap pemberian antimikroba tertentu. Sebagai contah, sepuluh persen pria berkulit hitam akan mengalami anemia yang moletik berat bila mendapat primaquin ini disebabkan mereka kekurangan enzim.
    Reaksi toksik
    AM pada umumnya bersifat toksik-selektif, tetapi sifat mirolatif. Efek toksik pada hospes dapt ditimbulkan oleh semua jenis AM. Yang mungkin dapat dianggap relative tidak toksik sampai kini ialah golongan penisilin. Dalam menimbulkan efek toksik, masing-masing AM dapat memiliki predileksi terhadap organ atau system tertentu pada tubuh hospes.
    Perubahan biologic dan metabolic
    Pada tubuh hospes, baik yang sehat maupun yang menderita infeksi, terdapat populasi mikroflora normal. Dengan keseimbangan ekologik, populasi mikroflora tersebut biasanya tidak menimbulkan sifat pathogen. Penggunaan AM, terutama yang berspektrum lebar, dapat mengganggu keseimbangan ekologik mikroflora normal tubuh dapat terjadi disaluran cerna, nafas dan kelamin, dan pada kulit. Pada beberapa keadaan perubahan ini dapat menimbulkan super infeksi. Mikroba penyebab super infeksi biasanya ialah jenis mikroba yang menjadi dominant pertumbuhnannya akibat penggunaan AM, umpamanya kandidiasis sering timbul sebagai akibat penggunaan antibiotic berspektrum lebar, khususnya tetrasiklin.

    6. factor penderita yang mempengaruhi farmakodinamik dan farmakokinetik
    selain dipengaruhi oleh aktifitas antimikroba, efek farmakodinamik dan sifat farmakokinetiknya, efektifitas AM, dipengaruhi juga oleh berbagai factor yang terdapat pada pasien.
    Umur. Neonatus pada umumnya memilki organ atau system tubuh yang belum berkembang sepenuhnya. Umpamanya fungsi glukuronidasi oleh hepar belum cukup lancar, sehingga memudahkan terjadinya efek toksit oleh kloramfenikol. Fungsi ginjal sebagai alat ekskresi, juga belum lancar sehingga memudahkan terjadinya efektoksit oleh obat yang eliminasinya terutama melalui ginjal. Orang yang berusia lanjut sering kali mangalami kemunduran fungsi organ atau system tertentu, sehingga reaksi tubuh terhadap pemberian obat berubah, baik dalam segi farmakodinamik maupun segi farmakokinetik.
    Kehamilan. Pemberian obat pada ibu hamil harus disertai pertimbangan kemungkinan terjadinya efek samping pada ibu maupun janin. Ibu hamil pada umumnya lebih peka terhadap pengaruh obat tertentu, termasuk AM.
    Genetic. Adanya perbedaan ginetik antar ras dapat menimbulkan perbedaan reaksi terhadap obat.
    Keadaan patologik tubuh hospes. Keadaan patologik tubuh hospes dapat mengubah farmakodinamik dan farmakokinetik AM tertentu keadaan fungsi hati dan ginjal penting diketahui dalam pemberian obat, termasuk pemberian AM, sebab kedua organ tersebut berpengaruh besar pada farmakokinetik obat. Sirosis hati atau gangguan faalhati yang berat dapat meningkatkan toksisitas tetrasiklim, memperpanjang waktu paruh eliminasi linkomisin, meningkatkan kadar kloramfenikol dalam darah sehingga menimbulkan bahaya toksik.

    7. Sebab Kegagalan Terapi
    Kepekaan kuman terhadap AM tertentu tidak menjamin efektifitas klinis. Factor berikut dapat menjadi penyebab kegagalan terapi:
    1. Dosis yang kurang
    2. Masa terapi yang kurang
    3. Adanya factor mekanik
    4. Masalah dalam menetapkan etiologi
    5. factor farmakokinetik
    6. Pilihan AM yang kurang tepat
    7. Factor pasien

    8. Penggunaan Antimikroba Di Klinik
    A. Indikasi
    Penggunaan terapeutik AM di klinik bertujuan membasmi mikroba penyebab infeksi. Penggunaan AM ditentukan berdasarkan indikasi dengan mempertimbangkan factor-faktor berikut:
    1. Gambaran klinik penyakit infeksi
    2. Efekterapi AM pada penyakit infeksi
    3. Antimikroba dapat dikatakan bukan merupakan obat penyembuh peyakit infeksi dalam arti kata sebenarnya.

    B. Pilihan antimikroba dan posologi
    Pilihan antimikroba
    Setelah dokter menetapkan perlu diberikan AM pada pasien, langkah berikutnya ialah memilih jenis AM yang tepat, serta menentukan dosis dan cara pemberiannya. Dalam memilih jenis AM yang tepat harus dipertimbangkan factor sensitifitas mikrobanya terhadap AM, keadaan tubuh hospes, dan factor biaya pengobatan.
    Fosologi antimikroba
    Efek terapi yang optimal sangat dipengaruhi oleh tercapainya kadar AM pada tempat infeksi. Factor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan dosis ialah umur, berat badan, fungsi ginjal, fungsi hati dan lain-lain. Kadar ini ditentukan juga oleh penyerapannya. Penyerapan AM tertentu dapat terhambat dengan adanya zat lin, misalnya apsopsi tetrasiklin terhambat bila diberikan bersama preparat besi.
    C. Kombinasi antimikroba
    Yang digunakan menurut indikasi yang tepat dapat memberi manfaat klinik yang besar. Terapi kombinasi AM yang tidak terarah akan meningkatkan biaya dan efek samping, menseleksi galur kuman yang resisten terhadap banyak antimikroba, dan tidak meningkatkan efektifitas terapi.
    Indikasi penggunaan kombinasi
    Dalam garis besarnya, ada emapat indikasi penggunaan kombinasi tidak tetap, yaitu:
    1. pengobatan infeksi campuran
    2. pengobatan awal pada infeksi berat yang etiologinya belum jelas
    3. mendapatkan efek sinergi
    4. memperlambat timbulnya resistensi
    D. profileksis antimikroba
    Di Amerika sekitar 30-50 % antibotik diberikan untuk tujuan profilaksis. Seringkali pemberian profilaksis ini merupakan penggunaan AM yang berlebihan. Secara garis besar profilaksis AM untuk kasus bukanbedah diberikan untuk tiga tujuan:
    1. Melindungi seseorang yang terpajan
    2. Mencegah infeksi bacterial sekunder pada seseorang yang sedang menderita penyakit lain
    3. Mencegah endokarditis pada pasien kelainan katuk atau struktur jantung lain yang akan menempuh prosedur yang sering menimbul bacteremia.

    Untuk profilaksis kasus bedah berlaku prinsip sebagai berikut:
    1. Penggunaan AM untuk profilaksis selalu harus dibedakan dari penggunaan untuk terapi pada kasus bedah
    2. Pemberian profilaksis AM hanya diindikasikan untuk tindakan bedah tertentu yang sering disertai infeksi pasca bedah, atau yang membawa akibat bila terjadi infeksi pasca bedah
    3. AM yang dipakai harus sesuai dengan jenis kuman yang potensial menimbulkan infeksi pasca bedah
    4. Cara pemberian biasanya IV/IM
    5. Pemberian dilakukan pada saat induksi anestesi, tidak dibenarkan pemberian yang lebih dini dan biasanya hanya diberikan satu sampai dua dosis pemberian profilaksis lebih dari 24 jam tidak dibenarkan.

    «
    Next
    Posting Lebih Baru
    »
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar

    Leave a Reply