Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    » »Unlabelled » Morbili


    PEBI JULIANTO 22.57 1

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan sebuah Tugas yang berjudul MORBILI.
    Dalam menyelesaikan resume ini , tentunya tak lepas dari bantuan dari beberapa pihak. untuk ini , penulis mengucapkan terima kasih kepada:

    - Bapak Maiza Efaldi, S.Kom. selaku guru pembimbing.
    - Orang tua yang telah memberikan motivasi kepada saya.
    - Serta Semua pihak yang ikut terlibat dalam membantu penyelesaian Resume ini.

    Dalam penulisan resume ini tentu masih banyak sekali terdapat ke kurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penyempurnaan resume ini.
    Semoga apa yang diinginkan penulis dalam penulisan resume ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.


    belui. 18 Juni 2009


    Penulis







    DAFTAR ISI

    Hal
    KATA PENGANTAR i
    DAFTAR ISI ii
    BAB I PENDAHULUAN 1
    Latar Belakang 1
    Tujuan 1
    BAB II MORBILI 2
    Defenisi 2
    Etiologi 2
    Gejala 3
    Manifestasi Klinis 6
    Komplikasi 8
    Pengobatan 9
    BAB III PENUTUP 11
    Kesimpulan 11
    Saran 11
    Daftar Pustaka
    BAB I
    PENDAHULUAN

    Latar Belakang

    Infeksi menular yang disebabkan oleh virus morbili,& di tandai dengan terjadinya eksentama akut(demam,batuk,konjungtivitis dan ruam kulit).Istilah umum yang dipakai untuk morbili yaitucampak.

    Morbili dapat ditularkan dengan 3 cara,antara lain :
    a.percikan ludah yang mengandung virus
    b.kontak langsung dengan penderita
    c.penggunaan peralatan makan & minum bersama.

    Penderita dapat menularkan infeksi dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada.

    Gejala dimulai antara 7-20 hari (rata-rata 10-12 hari) sesudah terinfeksi. Gejala awal sulit dibedakan dengan influensa biasa. Dimulai dengan demam tinggi, hidung berair, batuk ringan, sariawan, nyeri menelan, dan mata merah berair. Anak menjadi cengeng dan matanya selalu terpejam akibat radang pada selaput lendir mata (konjungtivitis).

    Tujuan
    Dengan adanya resume ini, maka saya selaku panyusun mebuat resume ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan ujian semester dari dosen pembimbing mata kuliah computer, yaitu pak Maiza Efaldi, S.Kom.



    BAB II
    MORBILI

    Definisi

    Infeksi menular yang disebabkan oleh virus morbili,& di tandai dengan terjadinya eksentama akut(demam,batuk,konjungtivitis dan ruam kulit).Istilah umum yang dipakai untuk morbili yaitucampak.

    Epidemiologi

    Morbili dapat ditularkan dengan 3 cara,antara lain :
    a.percikan ludah yang mengandung virus
    b.kontak langsung dengan penderita
    c.penggunaan peralatan makan & minum bersama.

    Penderita dapat menularkan infeksi dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada.

    Etiologi

    Virus Rubeola
    a.virus ini memiliki RNA rantai tunggal
    b.famili paramiksovirus
    c.sampai saat ini hanya ada satu serotipe yang diketahui dapat
    menimbulkan penyakit pada manusia.




    Faktor Resiko
    a.Daya tahan tubuh yang lemah
    b.Belum pernah terkena campak
    c.Belum pernah mendapat vaksinasi campak.


    Gejala

    Gejala dimulai antara 7-20 hari (rata-rata 10-12 hari) sesudah terinfeksi. Gejala awal sulit dibedakan dengan influensa biasa. Dimulai dengan demam tinggi, hidung berair, batuk ringan, sariawan, nyeri menelan, dan mata merah berair. Anak menjadi cengeng dan matanya selalu terpejam akibat radang pada selaput lendir mata (konjungtivitis).

    Ruam dapat muncul pada selaput lendir mulut daerah pipi 2-4 hari kemudian. Ruam di daerah ini dikenal dengan istilah bercak Koplik (Koplik's spots). Nama tersebut diambil dari Henry Koplik, nama seorang dokter spesialis anak di Amerika Serikat yang pertama mendeteksi tanda itu. Bercak Koplik seringkali digambarkan seperti garam yang ditabur di atas permadani merah. Gambaran itu memang tepat, karena bercak koplik tampak sebagai titik-titik putih kecil dikelilingi oleh dasar mukosa yang merah. Bercak ini hanya muncul pada masa inkubasi dan cepat menghilang.

    3-5 hari setelah gejala pertama (1-2 hari setelah munculnya bercak Koplik), demam menjadi semakin tinggi lalu diikuti dengan munculnya ruam-ruam berwarna kemerahan. Sebagian ruam hanya berupa perubahan warna saja (makula), tapi sebagian lagi berupa lesi yang agak menonjol (papula). Oleh karena itu, erupsi yang terjadi diistilahkan sebagai erupsi makulopapula.

    Ruam yang terasa sedikit gatal ini mula-mula muncul di belakang telinga. 1 - 2 hari kemudian ruam akan menyebar ke leher, dada, punggung, perut, dan akhirnya lengan serta tungkai. Pada saat ini ruam di wajah mulai menghilang.


    Pada puncak penyakit, penderita tampak sakit berat, ruam sangat luas, dan suhu tubuh dapat mencapai lebih dari 40°C. Batuk dapat bertambah parah. Pada keadaan yang berat, ruam biasanya akan tampak lebih gelap (merah kehitaman).

    Dalam 3-5 hari setelah munculnya ruam, suhu tubuh mulai kembali normal. Penderita akan merasa lebih baik dan ruam yang tersisa akan segera mengalami deskuamasi (pengelupasan lapisan tanduk kulit) dan menghilang. Walau demikian, ruam tersebut akan meninggalkan bekas berupa bercak berwarna kehitam-hitaman yang baru menghilang dalam waktu yang cukup lama (± 1 bulan). Bercak ini merupakan tanda khas bahwa seseorang baru saja terkena campak. Batuk biasanya masih tetap ada sampai beberapa hari kemudian.

    Kadang-kadang kadar platelet darah dapat turun sangat rendah (trombositopenia). Akibatnya penderita mudah mengalami perdarahan (ditandai dengan mudah memar).

    Manifestasi klinis
    Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium
    1. Stadium kataral (prodormal)
    Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam ringa hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan konjungtivitis. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapandengan molar dibawah, tetapi dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankula lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat karena diiringi demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leukopenia.
    2. Stadium erupsi
    Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema / titik merah dipalatum durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula papula disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.
    3. Stadium konvalesensi
    Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi

    Komplikasi
    - Otitis media akut
    - Pneumonia / bronkopneumoni
    - Encefalitis
    - Bronkiolitis
    - Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis

    Pencegahan
    1. Imunusasi aktif
    Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston B. Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersbut membawa perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung lama.
    Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat dilakukan sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu. Pada suatu komunitas dimana campak terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 12 bulan.

    2. Imunusasi pasif
    Imunusasi pasif dengan serum oarng dewasa yang dikumpulkan, serum stadium penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin plasma) yang dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk pencegahan atau melemahkan campak. Campak dapat dicegah dengan serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.

    Pengobatan
    Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
    Pemeriksaan Diagnostik
    o Pemeriksaan Fisik
    o Pemeriksaan Darah
    Penetalaksanaan Teraupetik
    o Pemberian vitamin A
    o Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
    o Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi
    o Pemberian obat batuk dan sedativum




    BAB III
    PENUTUP

    Kesimpulan

    Infeksi menular yang disebabkan oleh virus morbili,& di tandai dengan terjadinya eksentama akut(demam,batuk,konjungtivitis dan ruam kulit).Istilah umum yang dipakai untuk morbili yaitucampak.

    Morbili dapat ditularkan dengan 3 cara,antara lain :
    a.percikan ludah yang mengandung virus
    b.kontak langsung dengan penderita
    c.penggunaan peralatan makan & minum bersama.

    Penderita dapat menularkan infeksi dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada.

    Faktor Resiko
    a.Daya tahan tubuh yang lemah
    b.Belum pernah terkena campak
    c.Belum pernah mendapat vaksinasi campak.


    Saran
    Saya selaku penulis, menyadari bahwa resume ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan resume yang akan dibuat dimasa mendatang.


    Daftar Pustaka
    1. Listiono LD, ed. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara. (ed.III). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1998 : 147-176.
    2. Darmadipura MS. Cedera otak primer dan cedera otak sekunder tinjauan mekanisme dan patofisiologis. In: Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Bedah Saraf. 2000.
    3. Bajamal AH. Perawatan cidera kepala pra dan intra rumah sakit. In : Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Bedah Saraf. 2000.
    4. Hafid A, Kasan U, Darmadipura HMS, Wirjowijoyo B. Strategi dasar penanganan cidera otak. Warta IKABI Cabang Surabaya. 1989 : 107-128.
    5. Kisworo B. Penanganan patah tulang terbuka di puskesmas. Medika 1996;10: 802-804.
    6. McKhann II GM, Copass MK, Winn HR. Prehospital care of the head-injured patient. In: Narayan RK, Wilberger JE, Povlishock JT, eds. Neurotrauma. McGraw-Hill, 1996: 103-117.
    7. Andrews BT. Fluid and electrolite management in the head injured patient. In: Narayan RK, Wilberger JE, Povlishock JT, eds. Neurotrauma. McGraw-Hill, 1996: 331-344.

    «
    Next
    Posting Lebih Baru
    »
    Previous
    Posting Lama

    1 komentar Morbili

    1. thanks gen info na sangat membantu.
      ditunggu silaturahminya di http://yuudi.blogspot.com/
      law tertarik bwt iklan di blog silahkan gabung di http://www.facebook.com/groups/343082525761750/ bwt share . .

      BalasHapus