Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    » »Unlabelled » DIABETES MELLITUS ( DM )


    PEBI JULIANTO 00.23 0

    A. Pengertian
    Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
    Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

    B. Klasifikasi
    Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
    1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
    2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
    3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
    4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

    C. Etiologi
    1. Diabetes tipe I:
    a. Faktor genetik
    Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
    b. Faktor-faktor imunologi
    Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
    c. Faktor lingkungan
    Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
    2. Diabetes Tipe II
    Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
    Faktor-faktor resiko :
    a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
    b. Obesitas
    c. Riwayat keluarga

    D. Patofisiologi/Pathways

    E. Tanda dan Gejala
    Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
    Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
    1. Katarak
    2. Glaukoma
    3. Retinopati
    4. Gatal seluruh badan
    5. Pruritus Vulvae
    6. Infeksi bakteri kulit
    7. Infeksi jamur di kulit
    8. Dermatopati
    9. Neuropati perifer
    10. Neuropati viseral
    11. Amiotropi
    12. Ulkus Neurotropik
    13. Penyakit ginjal
    14. Penyakit pembuluh darah perifer
    15. Penyakit koroner
    16. Penyakit pembuluh darah otak
    17. Hipertensi
    Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
    Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
    Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.
    F. Pemeriksaan Penunjang
    1. Glukosa darah sewaktu
    2. Kadar glukosa darah puasa
    3. Tes toleransi glukosa
    Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
    Bukan DM Belum pasti DM DM
    Kadar glukosa darah sewaktu
    - Plasma vena
    - Darah kapiler
    Kadar glukosa darah puasa
    - Plasma vena
    - Darah kapiler

    < 100
    <80


    <110
    <90

    100-200
    80-200


    110-120
    90-110

    >200
    >200


    >126
    >110
    Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
    1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
    2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
    3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

    G. Penatalaksanaan
    Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
    Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
    1. Diet
    2. Latihan
    3. Pemantauan
    4. Terapi (jika diperlukan)
    5. Pendidikan

    H. Pengkajian
    ? Riwayat Kesehatan Keluarga
    Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
    ? Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
    Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
    ? Aktivitas/ Istirahat :
    Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.

    ? Sirkulasi
    Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
    ? Integritas Ego
    Stress, ansietas
    ? Eliminasi
    Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
    ? Makanan / Cairan
    Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
    ? Neurosensori
    Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
    ? Nyeri / Kenyamanan
    Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
    ? Pernapasan
    Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
    ? Keamanan
    Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

    I. Masalah Keperawatan
    1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan
    2. Kekurangan volume cairan
    3. Gangguan integritas kulit
    4. Resiko terjadi injury

    J. Intervensi
    1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.
    Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
    Kriteria Hasil :
    ? Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
    ? Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
    Intervensi :
    ? Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
    ? Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
    ? Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
    ? Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
    ? Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
    ? Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
    ? Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
    ? Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.
    ? Kolaborasi dengan ahli diet.

    2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
    Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
    Kriteria Hasil :
    Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.

    Intervensi :
    ? Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik
    ? Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
    ? Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
    ? Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
    ? Pantau masukan dan pengeluaran
    ? Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung
    ? Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
    ? Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur
    ? Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)

    3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).
    Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.
    Kriteria Hasil :
    Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi
    Intervensi :
    ? Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.
    ? Kaji tanda vital
    ? Kaji adanya nyeri
    ? Lakukan perawatan luka
    ? Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
    ? Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

    4. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan
    Tujuan : pasien tidak mengalami injury
    Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury
    Intervensi :
    ? Hindarkan lantai yang licin.
    ? Gunakan bed yang rendah.
    ? Orientasikan klien dengan ruangan.
    ? Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
    ? Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi


    DAFTAR PUSTAKA

    Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.

    Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.

    Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.

    Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.

    Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.

    Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002

    «
    Next
    Posting Lebih Baru
    »
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar

    Leave a Reply