Select Menu

Favourite

INDONESIA

" });

Wisata

Julianto

Education

Text Widget

Hidup tanpa mempunyai TUJUAN sama seperti " Layang-layang putus" Miliki tujuan dan PERCAYALAH anda dapat mencapainya.

Orang yang gagah perkasa itu bukan orang yang bertubuh kekar melainkan orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika marah.

Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki.

Hidup ini pilihan. Apapun yang membuatmu sedih, tinggalkanlah...tanpa rasa takut akan hilangnya kebahagiaan di masa depan.

Pictures

Business

Video

Find Us On Facebook

Travel

Fashion

Video Of Day

my family

my family

The Best Insting

The Best Insting

Download

Blockquote

Unordered List

Slider

Recent Videos

Movies

  • Latest News

    News

    Follow by Email

    Games

    Music

    Culture

    Transportasi Tradisional

    Rumah Adat

    Bali

    Pantai

    Seni Budaya

    Kuliner

    » »Unlabelled » ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL NAFAS


    PEBI JULIANTO 00.39 0

    I. PENGERTIAN
    • Gagal nafas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkanoleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T, 1997)
    • Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dankarbondioksida dalam jumlah yangdapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2001)
    • Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komsumsioksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). (Brunner & Sudarth, 2001)

    II. PATOFISIOLOGI
    Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana masing masing mempunyai pengertian yang bebrbeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunyanormal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara).Pasien mengalalmi toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru-paru kembali kekeasaan asalnya. Pada gagal nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel.
    Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang dilakukan memberi bantuan ventilator karena “kerja pernafasan” menjadi tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitasvital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20 ml/kg).
    Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuatdimana terjadi obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi bisa terjadi pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan denganefek yang dikeluarkanatau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiood. Pnemonia atau dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.

    PATHWAYS

    III. ETIOLOGI
    1. Depresi Sistem saraf pusat
    Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang menngendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga pernafasan lambat dan dangkal.
    2. Kelainan neurologis primer
    Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangatmempengaruhiventilasi.
    3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
    Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.
    4. Trauma
    Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas. Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung dan mulut dapat mnegarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan. Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar
    5. Penyakit akut paru
    Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam. Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yang menyababkan gagal nafas.
    IV. TANDA DAN GEJALA
    A. Tanda
    Gagal nafas total
    • Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
    • Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi
    • Adanya kesulitasn inflasi parudalam usaha memberikan ventilasi buatan
    Gagal nafas parsial
    • Terdenganr suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizing.
    • Ada retraksi dada
    B. Gejala
    • Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)
    • Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)

    V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
    • Pemerikasan gas-gas darah arteri
    Hipoksemia
    Ringan : PaO2 < 80 mmHg
    Sedang : PaO2 < 60 mmHg
    Berat : PaO2 < 40 mmHg
    • Pemeriksaan rontgen dada
    Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses penyakit yang tidak diketahui
    • Hemodinamik
    Tipe I : peningkatan PCWP
    • EKG
    Mungkin memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung di sisi kanan
    Disritmia
    VI. PENGKAJIAN
    Pengkajian Primer
    1. Airway
    • Peningkatan sekresi pernapasan
    • Bunyi nafas krekels, ronki dan mengi
    2. Breathing
    • Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.
    • Menggunakan otot aksesori pernapasan
    • Kesulitan bernafas : lapar udara, diaforesis, sianosis
    3. Circulation
    • Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia
    • Sakit kepala
    • Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah, kacau mental, mengantuk
    • Papiledema
    • Penurunan haluaran urine
    VII. PENTALAKSANAAN MEDIS
    • Terapi oksigen
    Pemberian oksigen kecepatan rendah : masker Venturi atau nasal prong
    • Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP) atau PEEP
    • Inhalasi nebuliser
    • Fisioterapi dada
    • Pemantauan hemodinamik/jantung
    • Pengobatan
    Brokodilator
    Steroid
    • Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan
    VIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN
    1. Pola nafas tidak efektif b.d. penurunan ekspansi paru
    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pola pernapasan yang efektif
    Kriteria Hasil :
    Pasien menunjukkan
    • Frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan normal
    • Adanya penurunan dispneu
    • Gas-gas darah dalam batas normal
    Intervensi :
    • Kaji frekuensi, kedalaman dan kualitas pernapasan serta pola pernapasan.
    • Kaji tanda vital dan tingkat kesasdaran setaiap jam dan prn
    • Monitor pemberian trakeostomi bila PaCo2 50 mmHg atau PaO2< 60 mmHg
    • Berikan oksigen dalam bantuan ventilasi dan humidifier sesuai dengan pesanan
    • Pantau dan catat gas-gas darah sesuai indikasi : kaji kecenderungan kenaikan PaCO2 atau kecendurungan penurunan PaO2
    • Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap 1 jam
    • Pertahankan tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30 sampai 45 derajat untuk mengoptimalkan pernapasan
    • Berikan dorongan utnuk batuk dan napas dalam, bantu pasien untuk mebebat dada selama batuk
    • Instruksikan pasien untuk melakukan pernapasan diagpragma atau bibir
    • Berikan bantuan ventilasi mekanik bila PaCO > 60 mmHg. PaO2 dan PCO2 meningkat dengan frekuensi 5 mmHg/jam. PaO2 tidak dapat dipertahankan pada 60 mmHg atau lebih, atau pasien memperlihatkan keletihan atau depresi mental atau sekresi menjadi sulit untuk diatasi.
    2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-perfusi sekunder terhadap hipoventilasi
    Tujuan :
    Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pertukaran gas yang adekuat
    Kriteria Hasil :
    Pasien mampu menunjukkan :
    • Bunyi paru bersih
    • Warna kulit normal
    • Gas-gas darah dalam batas normal untuk usia yang diperkirakan
    Intervensi :
    • Kaji terhadap tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia
    • Kaji TD, nadi apikal dan tingkat kesadaran setiap[ jam dan prn, laporkan perubahan tinmgkat kesadaran pada dokter.
    • Pantau dan catat pemeriksaan gas darah, kaji adanya kecenderungan kenaikan dalam PaCO2 atau penurunan dalam PaO2
    • Bantu dengan pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi, kaji perlunya CPAP atau PEEP.
    • Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap jam
    • Tinjau kembali pemeriksaan sinar X dada harian, perhatikan peningkatan atau penyimpangan
    • Pantau irama jantung
    • Berikan cairan parenteral sesuai pesanan
    • Berikan obat-obatan sesuai pesanan : bronkodilator, antibiotik, steroid.
    • Evaluasi AKS dalam hubungannya dengan penurunan kebutuhan oksigen.
    3. Kelebihan volume cairan b.d. edema pulmo
    Tujuan :
    Setelah diberikan tindakan perawatan pasien tidak terjadi kelebihan volume cairan
    Kriteria Hasil :
    Pasien mampu menunjukkan:
    • TTV normal
    • Balance cairan dalam batas normal
    • Tidak terjadi edema
    Intervensi :
    • Timbang BB tiap hari
    • Monitor input dan output pasien tiap 1 jam
    • Kaji tanda dan gejala penurunan curah jantung
    • Kaji tanda-tanda kelebihan volume : edema, BB , CVP
    • Monitor parameter hemodinamik
    • Kolaburasi untuk pemberian cairandan elektrolit


    4. Gangguan perfusi jaringan b.d. penurunan curah jantung
    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mampu mempertahankan perfusi jaringan.
    Kriteria Hasil :
    Pasien mampu menunjukkan
    • Status hemodinamik dalam bata normal
    • TTV normal
    Intervensi :
    • Kaji tingkat kesadaran
    • Kaji penurunan perfusi jaringan
    • Kaji status hemodinamik
    • Kaji irama EKG
    • Kaji sistem gastrointestinal



    Daftar pustaka

    Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB Lippincott company, Philadelpia.

    Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta.

    Reksoprodjo Soelarto, (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta.

    Suddarth Doris Smith, (1991), The lippincott Manual of Nursing Practice, fifth edition, JB Lippincott Company, Philadelphia.

    «
    Next
    Posting Lebih Baru
    »
    Previous
    Posting Lama

    Tidak ada komentar

    Leave a Reply